Setelah sekian lama tak menjejakkan ide di mimpisyurga, saat ini saya ingin MENULIS.
Saya awali tulisan ini dengan LAPORAN PERJALANAN. hehehe....
Tadi saat saya pulang dari Bank Rakyat Indonesia, di daerah Parakansingjang, naiklah seorang kakek tua. (ya iya, lah...namanya kakek ya tua... :-) )
Sang kakek, seperti halnya kakek yang lain, tampil begitu bersahaja. Aroma tanah tercium dari tubuhnya. Wajahnya penuh kerut merut beban hidup, dan pakaiannya berkerut di sana-sini.
Tiba-tiba saya terpikir, apakah kakek yang akan mendampingi sisa hidupku kelak; saat saya telah menjadi nenek tua; juga harus serupa itu? Tak bolehkah, kakek pendampingku kelak, tampil lebih rapi dan wangi? Tapi kayaknya emang lucu, yah, ada kakek, pakaiannya 'njithit', dengan parfum paris yang menggoda. Aha, ya tak terlalu begitu, lah.... Nanti malah dikira kakek ganjen, lagi. Repot juga....
Whaduh, sebenarnya mau ngomong apaan si??
Jadi gini, saat ini, saya dalam proses menjadi seorang istri. (ehm). Doakan ya, agar proses ini lancar, bebas hambatan seperti mobil melaju kencang di jalan tol. (Aamiin)
Belum lagi menikah, saya sudah terpikir akan hal itu. Bagaimanakah bila kelak telah menjadi kakek nenek? Akankah tetap semesra saat-saat ini? Akankah tetap serapi saat ini penampilannya? Akahkah tetap seindah saat ini setiap pertemuannya?
Maka kekuatan niat yang suci lagi lurus, mudah-mudahan menjadi jawab dari semua pertanyaan itu. Bila menikah diniati untuk ibadah, maka insya Allah, segala hal yang menjadi bumbu pernikahan kelak, akan menambah indahnya ikatan pernikahan. Konflik yang terjadi adalah bumbu yang sedap agar indahnya romantika pernikahan lebih terasa. Kulit yang berkerut merut, tak akan menjadi soal, sebab pengabdian pada Allah lah orientasi dari pernikahan yang dibangun. Ketiadaan harta bukan halangan untuk bersedekah, anak-anak (yang katanya) rewel, bukan menjadi alasan untuk marah-marah, tapi menjadi cambuk untuk lebih mengoreksi pola asuh dan pendidikan yang kita berikan. Dan sebagainya. Dan seterusnya.
Menikah? Aha, memimpikan saja rasanya indah sekali. Mudah-mudahan seindah kenyataannya nanti. Saat ini, saya sedang bersiap diri menyongsong saat (yang dalam benakku) yang sangat indah itu. Mohon doanya, agar semua berjalan sesuai rencana. Aamiin
Kamis, 13 November 2008
KANGEN, NEH...
Assalaamu'alaikum wr.wb.
Puji syukur hanya untuk Allah, akhirnya saat ini saya bisa berbagi dengan sidang pembaca semuanya. Semoga apa yang akan saya tuliskan; setelah sekian lama tak berbagi lewat media ini; bermanfaat untuk semuanya.
Ah, berapa lama saya tak berkunjung ke warnet? Ada banyak peristiwa berlalu begitu saja, ada sangat banyak momen akhirnya tak meninggalkan kesan berarti sebab tak didokumentasikan dengan baik.
Sampai di sini, saya tahu, ternyata, betapa pentingnya menulis. Dan detik ini juga saya tersadar; sungguh tak salah apa yang dikatakan oleh salah seorang teman saat itu: TULISLAH APA YANG KAU LAKUKAN, DAN LAKUKANLAH APA YANG KAU TULIS.
Sebab, menjalani sesuatu yang telah direncanakan (telah ditulis), jauh lebih mudah daripada menjalani sesuatu yang tak direncanakan sama sekali. Dan, menuliskan sesuatu yang telah dilakukan, akan sangat membantu untuk kita mengevaluasi hasil kerja kita itu.
I think, that is all....
Selamat menikmati suguhan saya saat ini.
Wassalaamu'alaikum wr.wb.
Puji syukur hanya untuk Allah, akhirnya saat ini saya bisa berbagi dengan sidang pembaca semuanya. Semoga apa yang akan saya tuliskan; setelah sekian lama tak berbagi lewat media ini; bermanfaat untuk semuanya.
Ah, berapa lama saya tak berkunjung ke warnet? Ada banyak peristiwa berlalu begitu saja, ada sangat banyak momen akhirnya tak meninggalkan kesan berarti sebab tak didokumentasikan dengan baik.
Sampai di sini, saya tahu, ternyata, betapa pentingnya menulis. Dan detik ini juga saya tersadar; sungguh tak salah apa yang dikatakan oleh salah seorang teman saat itu: TULISLAH APA YANG KAU LAKUKAN, DAN LAKUKANLAH APA YANG KAU TULIS.
Sebab, menjalani sesuatu yang telah direncanakan (telah ditulis), jauh lebih mudah daripada menjalani sesuatu yang tak direncanakan sama sekali. Dan, menuliskan sesuatu yang telah dilakukan, akan sangat membantu untuk kita mengevaluasi hasil kerja kita itu.
I think, that is all....
Selamat menikmati suguhan saya saat ini.
Wassalaamu'alaikum wr.wb.
Sabtu, 11 Oktober 2008
MEMASAK
Memasak itu identik dengan dunia wanita. Sebetapa pun sibuknya seorang wanita, akan sangat baik bila bisa memasak.
Tak saya sangka sebelumnya, ternyata aktivitas memasak sangat mengasyikkan sekali. Sebelum ini, saya sangat jarang terjun ke dapur. Sebab kebetulan, dapur saya rata dengan ruangan yang lain, jadi tak ada acara terjun-terjun segala. Hehehe...
Bukan tanpa alasan, saya tidak bersibuk-sibuk ria di dapur. Aktivitas di luar rumah, menyita sebagian waktu saya. Pagi sampai siang, saya bermain-main sama anak-anak dan sekian banyak pekerjaan di sekolah. Pulang dari sekolah, hidangan untuk makan siang, selalu sudah tersedia. Saya tak kebagian pekerjaan apapun, selain ikut membersihkan makanan-makanan tersebut dari wadahnya hingga sebersih-bersihnya. Begitulah.
Sorenya, terkadang ada aktivitas sosial lain. Malamnya, begitu juga. Setelah isya, biasanya rasa lelah mulai menyerang. Maka saya tak punya pilihan lain selain beristirahat. Maka bila saya pengen masuk dapur, seharusnya jam setengah dua atau jam satu dini hari, saya sudah bangun. Sebab bila tidak, maka kerjaan dapur akan dibereskan oleh mama. Dan saya, jarang sekali bangun tidur pada jam-jam segitu. Yang sering, saya bangun bersamaan dengan adzan subuh.
Tapi itu dulu. Sekarang ceritanya sudah lain. Ada yang memberikan support luarbiasa untuk saya. Support untuk terus memasak. Dan hasilnya, luar biasa. Saya merasa sedemikian enjoy ketika harus bangun jam setengah dua dinihari, membuat api, menghidupkan tungku, menjerang air, menanak nasi, dan membuat lauk buat sarapan pagi. Sungguh! Menyenangkan sekali.
Meski lelah, tapi saya menikmatinya. Mungkin suatu saat, saya bisa berbagi resep-resep masakan sederhana yang pernah saya buat. Mau yang mana? Cap cay kangkung? Dadar kentang? Bakwan Slada? Ah...pokoknya, menyenangkan dech aktivitas memasak. Tak bikin kapok. Pasti, saya akan selalu menyempatkan diri untuk masuk ke dapur. Bukan lagi sebagai tukang icip-icip ini itu, tapi sebagai koki yang belajar menjadi hebat, meski untuk kalangan sendiri. Hehehe...
Whaduh, sekian lama tak berbagi di blog ini, betapa banyak yang ingin saya utarakan, tapi waktunya tak mendukung. Dah dulu, ya...kapan-kapan kita berbagi lagi. See you....
Tak saya sangka sebelumnya, ternyata aktivitas memasak sangat mengasyikkan sekali. Sebelum ini, saya sangat jarang terjun ke dapur. Sebab kebetulan, dapur saya rata dengan ruangan yang lain, jadi tak ada acara terjun-terjun segala. Hehehe...
Bukan tanpa alasan, saya tidak bersibuk-sibuk ria di dapur. Aktivitas di luar rumah, menyita sebagian waktu saya. Pagi sampai siang, saya bermain-main sama anak-anak dan sekian banyak pekerjaan di sekolah. Pulang dari sekolah, hidangan untuk makan siang, selalu sudah tersedia. Saya tak kebagian pekerjaan apapun, selain ikut membersihkan makanan-makanan tersebut dari wadahnya hingga sebersih-bersihnya. Begitulah.
Sorenya, terkadang ada aktivitas sosial lain. Malamnya, begitu juga. Setelah isya, biasanya rasa lelah mulai menyerang. Maka saya tak punya pilihan lain selain beristirahat. Maka bila saya pengen masuk dapur, seharusnya jam setengah dua atau jam satu dini hari, saya sudah bangun. Sebab bila tidak, maka kerjaan dapur akan dibereskan oleh mama. Dan saya, jarang sekali bangun tidur pada jam-jam segitu. Yang sering, saya bangun bersamaan dengan adzan subuh.
Tapi itu dulu. Sekarang ceritanya sudah lain. Ada yang memberikan support luarbiasa untuk saya. Support untuk terus memasak. Dan hasilnya, luar biasa. Saya merasa sedemikian enjoy ketika harus bangun jam setengah dua dinihari, membuat api, menghidupkan tungku, menjerang air, menanak nasi, dan membuat lauk buat sarapan pagi. Sungguh! Menyenangkan sekali.
Meski lelah, tapi saya menikmatinya. Mungkin suatu saat, saya bisa berbagi resep-resep masakan sederhana yang pernah saya buat. Mau yang mana? Cap cay kangkung? Dadar kentang? Bakwan Slada? Ah...pokoknya, menyenangkan dech aktivitas memasak. Tak bikin kapok. Pasti, saya akan selalu menyempatkan diri untuk masuk ke dapur. Bukan lagi sebagai tukang icip-icip ini itu, tapi sebagai koki yang belajar menjadi hebat, meski untuk kalangan sendiri. Hehehe...
Whaduh, sekian lama tak berbagi di blog ini, betapa banyak yang ingin saya utarakan, tapi waktunya tak mendukung. Dah dulu, ya...kapan-kapan kita berbagi lagi. See you....
Senin, 01 September 2008
MARHABAN YA..... RAMADLAN
Marhaban Ya...Ramadlan...
Kami menyambutmu
Satu tahun sudah menantimu
Harap cemas dan malu
Tak bisa persembahkan yang terbaik
Yang termulia
Atas apa-apa yang kami miliki
Marhaban Ya...Ramadlan...
Ijinkan kami menyapamu
Dengan sujud dan ruku
I'tikaf, Tilawah, dan Tathawu
Dalam gembira batas mampu
Marhaban Ya...Ramadlan...
Marhaban Ya...Ramadlan...
Alhamdulillah, berjumpa lagi dengan Ramadlan. Malu juga, tak ada rencana-rencana spesial yang saya siapkan untuk mengisi Ramadlan tahun ini. Agak berbeda dengan tahun lalu, yang bahkan rencana-rencana itu telah terdaftar rapi.
Baiklah, mudah-mudahan belum terlambat untuk merencanakan amalan-amalan itu sekarang. Ramadlan adalah bulan agung, selayaknya saya menyambutnya penuh suka cita.
- Menyambung silaturrahmi dengan kawan-kawan, dengan berbagai cara
- Khatam tilawah Al-Qur`an
- Tarawih
- Memperbanyak infak dan shadaqah
Bismillaah...mudah-mudahan semua berjalan sebagaimana yang direncanakan.
Selamat! Untuk para pembaca yang telah memiliki kesiapan mental dan fisik menyambut dan mengisi Ramadlan tahun ini dengan amal kebajikan.
Selamat! Bagi yag telah punya rencana.
Selamat! Bagi yang telah punya niat menyusun rencana-rencana.
Belum ada niat mengisi Ramadlan dengan yang spesial? Whaduh, whaduh, cepetan dech...jangan tunggu Ramadlan berlalu, untuk selanjutnya menyesal tak berkesudahan.
Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadlan 1429 H, kiranya Allah memudahkan kita mencapai derajat taqwa. Aamiin...
Kami menyambutmu
Satu tahun sudah menantimu
Harap cemas dan malu
Tak bisa persembahkan yang terbaik
Yang termulia
Atas apa-apa yang kami miliki
Marhaban Ya...Ramadlan...
Ijinkan kami menyapamu
Dengan sujud dan ruku
I'tikaf, Tilawah, dan Tathawu
Dalam gembira batas mampu
Marhaban Ya...Ramadlan...
Marhaban Ya...Ramadlan...
Alhamdulillah, berjumpa lagi dengan Ramadlan. Malu juga, tak ada rencana-rencana spesial yang saya siapkan untuk mengisi Ramadlan tahun ini. Agak berbeda dengan tahun lalu, yang bahkan rencana-rencana itu telah terdaftar rapi.
Baiklah, mudah-mudahan belum terlambat untuk merencanakan amalan-amalan itu sekarang. Ramadlan adalah bulan agung, selayaknya saya menyambutnya penuh suka cita.
- Menyambung silaturrahmi dengan kawan-kawan, dengan berbagai cara
- Khatam tilawah Al-Qur`an
- Tarawih
- Memperbanyak infak dan shadaqah
Bismillaah...mudah-mudahan semua berjalan sebagaimana yang direncanakan.
Selamat! Untuk para pembaca yang telah memiliki kesiapan mental dan fisik menyambut dan mengisi Ramadlan tahun ini dengan amal kebajikan.
Selamat! Bagi yag telah punya rencana.
Selamat! Bagi yang telah punya niat menyusun rencana-rencana.
Belum ada niat mengisi Ramadlan dengan yang spesial? Whaduh, whaduh, cepetan dech...jangan tunggu Ramadlan berlalu, untuk selanjutnya menyesal tak berkesudahan.
Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadlan 1429 H, kiranya Allah memudahkan kita mencapai derajat taqwa. Aamiin...
Sabtu, 26 Juli 2008
MENUNGGU ATAU MENJEMPUT?
Beberapa waktu yang lalu, saya terlibat percakapan serius dengan teman lama. Dia telah menikah, dan baru dikaruniai seorang putra. Awalnya kami bicara ngalor-ngidul tanpa arah, hingga akhirnya masalah jodoh jadi bahan perbincangan.
Teman saya ini datang ke pengajian tersebut dengan seorang temannya, sebut saja Mbak Gati. Bagi Mbak Gati, jodoh adalah sesuatu yang sudah ada. Kita tinggal menunggu saja.
Pada pernyataan yang pertama, saya sepakat. Tapi pada pernyataan yang kedua, saya kurang sepakat. Bagi saya, jodoh adalah sesuatu yang harus kita upayakan.
-0-
Kawan....
Lepas dari harus dicari atau cukup ditunggu, saya ingin membicarakan tentang dua kata ini: MENUNGGU atau MENJEMPUT.
Hidup di dunia ini fana. Pasti akan ada akhir dari semuanya. Kematian adalah fakta tak terbantahkan mengenai akhir dari sebuah kehidupan.
Kematian pasti ada. Pasti telah disiapkan untuk kita. Sama juga dengan jodoh, jodoh pasti ada. Pasti telah disiapkan untuk kita. Apakah untuk menghadapi hal-hal tersebut, cukup hanya dengan menunggu waktunya datang pada kita saja?
Bagi saya, TIDAK. Kematian tidak cukup hanya ditunggu, tapi harus dijemput. Mungkin bahasa yang lebih halus adalah disiapkan.
Kawan....
Menunggu adalah aktivitas pasif yang sangat membosankan. Sebaliknya, menjemput lebih bermakna proaktif akan keberhasilan sesuatu. Dan itu sangat menyenangkan. Sebab itu berarti, kita mempersiapkan diri untuk menerima hasil akhir dari apa yang sedang kita lakoni.
Meski barangkali hakikatnya sama (sama-sama menuju hasil akhir), tapi menjemput tetaplah memiliki nilai lebih dibanding sekedar menunggu.
Kawan...
Dengan menjemput, kita terpacu melakukan banyak hal agar apa yang ingin kita capai, bisa kita capai dengan makna lebih. Tapi jika hanya menunggu, maka kita hanya akan menerima apa yang memang telah disiapkan untuk kita. Tak inginkah kita merancang apa yang ingin kita dapatkan??
Menunggu atau menjemput??? Pilihan ada di tangan kita sendiri. Salam
Teman saya ini datang ke pengajian tersebut dengan seorang temannya, sebut saja Mbak Gati. Bagi Mbak Gati, jodoh adalah sesuatu yang sudah ada. Kita tinggal menunggu saja.
Pada pernyataan yang pertama, saya sepakat. Tapi pada pernyataan yang kedua, saya kurang sepakat. Bagi saya, jodoh adalah sesuatu yang harus kita upayakan.
-0-
Kawan....
Lepas dari harus dicari atau cukup ditunggu, saya ingin membicarakan tentang dua kata ini: MENUNGGU atau MENJEMPUT.
Hidup di dunia ini fana. Pasti akan ada akhir dari semuanya. Kematian adalah fakta tak terbantahkan mengenai akhir dari sebuah kehidupan.
Kematian pasti ada. Pasti telah disiapkan untuk kita. Sama juga dengan jodoh, jodoh pasti ada. Pasti telah disiapkan untuk kita. Apakah untuk menghadapi hal-hal tersebut, cukup hanya dengan menunggu waktunya datang pada kita saja?
Bagi saya, TIDAK. Kematian tidak cukup hanya ditunggu, tapi harus dijemput. Mungkin bahasa yang lebih halus adalah disiapkan.
Kawan....
Menunggu adalah aktivitas pasif yang sangat membosankan. Sebaliknya, menjemput lebih bermakna proaktif akan keberhasilan sesuatu. Dan itu sangat menyenangkan. Sebab itu berarti, kita mempersiapkan diri untuk menerima hasil akhir dari apa yang sedang kita lakoni.
Meski barangkali hakikatnya sama (sama-sama menuju hasil akhir), tapi menjemput tetaplah memiliki nilai lebih dibanding sekedar menunggu.
Kawan...
Dengan menjemput, kita terpacu melakukan banyak hal agar apa yang ingin kita capai, bisa kita capai dengan makna lebih. Tapi jika hanya menunggu, maka kita hanya akan menerima apa yang memang telah disiapkan untuk kita. Tak inginkah kita merancang apa yang ingin kita dapatkan??
Menunggu atau menjemput??? Pilihan ada di tangan kita sendiri. Salam
Kamis, 17 Juli 2008
PERTEMUAN ITU....
Hari ini saya diutus oleh Bapak Kepala Madrasah untuk mengantarkan data ke Kantor Departemen Agama Kabupaten Banyumas. Di pertigaan dekat Puskesmas Pekuncen, anak-anak kecil nan imut naik ke dalam mikrobis yang saya tumpangi juga. Dikawal oleh dua orang guru, mereka pulang ke rumah mereka masing-masing setelah hampir seharian menempuh 'pendidikan' Taman Kanak-kanak.
Sampai di pertigaan Karanganyar, anak-anak kecil itu turun. Di pertigaan itu, orang tua anak-anak kecil itu sudah menunggu. Dengan tatap mata bangga dan penuh kerinduan, para orang tua itu menyongsong putra-putrinya yang baru pulang.
Dari kejadian yang hampir selalu saya temui itu, saya tahu, ternyata, namanya pertemuan, apapun itu, tetap menjadi sesuatu yang dinantikan. Seorang ibu yang tak sampai 10 jam 'kehilangan' putra-putrinya (sebab putra-putri itu bersekolah), sangat menantikan kepulangan mereka. Selalu rindu. Selalu kangen. Apalah lagi yang sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun-tahun tak bersua. Pastilah rasa rindu itu menggunung sangat tingginya. Menyesakkan dada, dan seringkali, meledak dalam tangis bahagia saat benar-benar berjumpa.
Aduhai, namanya pertemuan...
Seorang ibu pasti selalu mendamba bertemu dengan putra-putrinya. Seorang istri mendamba bertemu dengan suaminya, seorang anak juga selalu mendamba bertemua dengan orang tuanya.
Saya juga mendamba bertemu dengan saudara-saudara yang saya temui dalam dunia maya ini. Kapankah tiba saatnya, kita saling jumpa? Mungkin ada ide-ide sederhana, yang dapat kita realisasikan, agar tercipta perubahan yang lebih baik untuk kehidupan kita bersama.
Dan...
Sebagai makhluk Tuhan, dambakah kita berjumpa dengan Pencipta kita? Sudah mempersiapkan apakah untuk menyongsong perjumpaan dengan-Nya kelak?
Jauh, di lubuk hati kita yang terdalam, kita pasti merindukan bertemu dengan-Nya. Bertemu dalam keadaan baik, ridlo dan diridloi. Sudah siapkah??? Kita masing-masing yang bisa menjawabnya.
Sampai di pertigaan Karanganyar, anak-anak kecil itu turun. Di pertigaan itu, orang tua anak-anak kecil itu sudah menunggu. Dengan tatap mata bangga dan penuh kerinduan, para orang tua itu menyongsong putra-putrinya yang baru pulang.
Dari kejadian yang hampir selalu saya temui itu, saya tahu, ternyata, namanya pertemuan, apapun itu, tetap menjadi sesuatu yang dinantikan. Seorang ibu yang tak sampai 10 jam 'kehilangan' putra-putrinya (sebab putra-putri itu bersekolah), sangat menantikan kepulangan mereka. Selalu rindu. Selalu kangen. Apalah lagi yang sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun-tahun tak bersua. Pastilah rasa rindu itu menggunung sangat tingginya. Menyesakkan dada, dan seringkali, meledak dalam tangis bahagia saat benar-benar berjumpa.
Aduhai, namanya pertemuan...
Seorang ibu pasti selalu mendamba bertemu dengan putra-putrinya. Seorang istri mendamba bertemu dengan suaminya, seorang anak juga selalu mendamba bertemua dengan orang tuanya.
Saya juga mendamba bertemu dengan saudara-saudara yang saya temui dalam dunia maya ini. Kapankah tiba saatnya, kita saling jumpa? Mungkin ada ide-ide sederhana, yang dapat kita realisasikan, agar tercipta perubahan yang lebih baik untuk kehidupan kita bersama.
Dan...
Sebagai makhluk Tuhan, dambakah kita berjumpa dengan Pencipta kita? Sudah mempersiapkan apakah untuk menyongsong perjumpaan dengan-Nya kelak?
Jauh, di lubuk hati kita yang terdalam, kita pasti merindukan bertemu dengan-Nya. Bertemu dalam keadaan baik, ridlo dan diridloi. Sudah siapkah??? Kita masing-masing yang bisa menjawabnya.
Rabu, 09 Juli 2008
SETENGAH TAHUN...
Wah, lama sekali ga posting tulisan di mimpisyurga, rasanya kangen banget. Kangen ingin berbagi dengan sidang pembaca semuanya.
Bagaimana kabarnya, sidang pembaca semua? Semoga baik-baik saja. Syukur Alhamdulillah.
Beberapa minggu berlalu sudah, kini kita memasuki bulan baru. Dengan semangat baru, dengan rencana baru, harapan baru. Apa yang sudah berlalu, semestinya menjadi pelajaran berharga untuk lebih baiknya waktu-waktu yang akan datang.
Subhanallah…
Setengah tahun sudah di tahun 2008 ini. Apa yang sudah saya dapatkan? Banyak. Banyak sekali yang sudah saya dapatkan. Hanya saja, tidak semua yang saya dapatkan itu, saya cermati dan saya resapi. Sehingga, terkadang, ada kesalahan-kesalahan yang mestinya diperbaiki, luput dari perhatian. Sehingga lain waktu, terpaksa harus terulang. Ada kejutan-kejutan kecil mestinya layak disyukuri, berlalu tanpa kesan. Masih untung, jika ingat dan kemudian bersyukur, meski (mungkin) sudah terlambat.
Setengah tahun sangatlah lama. Ah, apalah lagi setengah tahun. Bahkan sedetik yang telah berlalu pun, tak akan mungkin lagi bisa digenggam. So? Seharusnya, dengan kesadaran ini, saya menjadi orang yang sangat berhati-hati dengan waktu. Tapi kok ya… sulit sekali, yah?
Di akhir tahun 2007 yang lalu, saya sempat merumuskan rencana-rencana. Dan ternyata, sangat sulit mewujudkan rencana-rencana itu tanpa berani bekerja keras. Yang ada, waktu demi waktu berlalu sia-sia. Astaghfirullah…
Apa lagi, yah? Kok bingung sih, ngobrol sendirian seperti ini. J
Oh ya, saya mendapatkan sesuatu yang biasa, tapi menjadi luar biasa saat ditelaah dengan lebih cermat.
Apa itu? Alam. Ada apa dengan alam? Ternyata, alam terkembang, benar-benar, harus dijadikan sebagai guru. Teringat dengan salah satu kalimat dalam salah satu edisi majalah Annida, alam terkembang, jadikanlah ia guru, sayang.
Ya, alam benar-benar menjadi guru. Gemericik airnya, hembus lembut anginnya, terjal tebing-tebingnya, hamparan rerumputan, pohon-pohon, jalan-jalan….
Semuanya. Cobalah luangkan waktu barang satu dua menit untuk menyaksikan sekeliling kita, dan lihatlah, ternyata, mereka mengajarkan bagaimana caranya kita menjalani hidup ini dengan baik. Serasi dan penuh harmoni. Sungguh, indah sekali!
Inti dari tulisan ini: pandai-pandailah memanfaatkan waktu untuk berguru kepada alam
See you…
Wassalam
Bagaimana kabarnya, sidang pembaca semua? Semoga baik-baik saja. Syukur Alhamdulillah.
Beberapa minggu berlalu sudah, kini kita memasuki bulan baru. Dengan semangat baru, dengan rencana baru, harapan baru. Apa yang sudah berlalu, semestinya menjadi pelajaran berharga untuk lebih baiknya waktu-waktu yang akan datang.
Subhanallah…
Setengah tahun sudah di tahun 2008 ini. Apa yang sudah saya dapatkan? Banyak. Banyak sekali yang sudah saya dapatkan. Hanya saja, tidak semua yang saya dapatkan itu, saya cermati dan saya resapi. Sehingga, terkadang, ada kesalahan-kesalahan yang mestinya diperbaiki, luput dari perhatian. Sehingga lain waktu, terpaksa harus terulang. Ada kejutan-kejutan kecil mestinya layak disyukuri, berlalu tanpa kesan. Masih untung, jika ingat dan kemudian bersyukur, meski (mungkin) sudah terlambat.
Setengah tahun sangatlah lama. Ah, apalah lagi setengah tahun. Bahkan sedetik yang telah berlalu pun, tak akan mungkin lagi bisa digenggam. So? Seharusnya, dengan kesadaran ini, saya menjadi orang yang sangat berhati-hati dengan waktu. Tapi kok ya… sulit sekali, yah?
Di akhir tahun 2007 yang lalu, saya sempat merumuskan rencana-rencana. Dan ternyata, sangat sulit mewujudkan rencana-rencana itu tanpa berani bekerja keras. Yang ada, waktu demi waktu berlalu sia-sia. Astaghfirullah…
Apa lagi, yah? Kok bingung sih, ngobrol sendirian seperti ini. J
Oh ya, saya mendapatkan sesuatu yang biasa, tapi menjadi luar biasa saat ditelaah dengan lebih cermat.
Apa itu? Alam. Ada apa dengan alam? Ternyata, alam terkembang, benar-benar, harus dijadikan sebagai guru. Teringat dengan salah satu kalimat dalam salah satu edisi majalah Annida, alam terkembang, jadikanlah ia guru, sayang.
Ya, alam benar-benar menjadi guru. Gemericik airnya, hembus lembut anginnya, terjal tebing-tebingnya, hamparan rerumputan, pohon-pohon, jalan-jalan….
Semuanya. Cobalah luangkan waktu barang satu dua menit untuk menyaksikan sekeliling kita, dan lihatlah, ternyata, mereka mengajarkan bagaimana caranya kita menjalani hidup ini dengan baik. Serasi dan penuh harmoni. Sungguh, indah sekali!
Inti dari tulisan ini: pandai-pandailah memanfaatkan waktu untuk berguru kepada alam
See you…
Wassalam
Langganan:
Postingan (Atom)
