Kamis, 24 November 2011

CATATAN KEMARIN

Wednesday, November 16, 2011 4:48:20 PM
Hari ini, jadwal ngajarku di SD Negeri Kaliwungu 03. Dan saya benar-benar menikmati ritme sehari ini. Bersama anak-anak yang ceria dan penuh semangat menyambut tawaran scenario pembelelajaranku, membuat hatiku tidak merasa lelah sama sekali. Masuk di kelas IV, mengoptimalkan hafalan anak-anak dengan mengkondisikan mereka pada suasana kompetisi. Ternyata, tak seorangpun anak yang mau untuk benar-benar kalah. Semua ingin menjadi yang pertama. Dan ini sangat menyenangkan. Membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok, memberikan tugas untuk menghafalkan materi, dan menagih hafalan mereka dalam ajang kompetisi. Maka, acara menghafalkan ketentuan salat (syarat sah, syarat wajib dan sunnah salat) menjadi sangat menyenangkan. Dimulai sekitar jam 07.15, dan saat jarum jam menunjuk angka 09.00, seolah tak mau berhenti dari proses pembelajaran. Betapa menyenangkan.
Lalu, kelas VI pun tak mau kalah. Belajar dalam kelompok, dituntut kekompakan dan kerjasama yang benar-benar tulus. Sama seperti di kelas IV, anak-anak kelas VI pun tak ada yang mau untuk kalah. Alhasil, acara menghafalkan surat al-Maidah ayat 3 beserta artinya, menjadi sangat menangtang dan menyenangkan. Apalagi, pulangnya bergiliran sesuai hasil kompetisi hari itu. Waow! Mengapa tak sedari dulu saya menyadari ini semua, ya? Makasih saya ucapkan pada Pak Nurmuludin. Atas segala ide, pemikiran, masukan, saran, contoh, bukti, dan lain sebagainya. Jujur, sejujurnya saya ingin mengajak anak-anak lebih senang belajar. Tapi bingung harus dengan cara apa. Wah, ternyata ada cara sederhana namun cukup bisa diharapkan. Yakni, memaksimalkan kerja kelompok. Dan itu, harus dilakukan dengan TELATEN. Tak boleh jemu. Bahkan dituntut untuk mengembangkan terus kreatifitas agar anak-anak semakin tertarik belajar. Thanks a lot, Sir…
Lalu, belajar bersama anak-anak kelas III. Mencoba memperdalam materi BTQ. Ya, suasana pembelajaran benar-benar cermin dari suasana hati. Hati yang semangat, penuh motivasi, harapan, dan cita-cita, akan melahirkan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Betapa senangnya melihat anak-anak; yang meskipun tidak bisa; namun tetap memiliki rasa percaya diri untuk tampil di depan, dan tanpa malu tetap mau belajar.
Dan yang terakhir, latihan pesta siaga bersama beberapa anak kelas IV. Wah, benar-benar, deh. Dulu, bila melihat anak yang lambat berpikir, pasti segala cap negative akan menempel dengan begitu mudahnya pada anak-anak tersebut. Tapi tadi sore, ajaib. Entah energy apa yang sedang merasuki saya hari ini. Melihat anak-anak tak langsung bisa melafalkan bacaan tasbih, tahmid, dan takbir, saya bisa menerimanya dengan sangat lapang. Bahkan, tertawa. Catet! TERTAWA! Seolah, saya merasa sedemikian bebas, tak ada beban sama sekali. Rasa kemakluman saya begitu besar hari ini. Segala salah anak, saya maafkan. Hehe…
Begitulah. Intinya, apa yang kita pikirkan, itu yang akan kita alami. Bila pikiran-pikiran positif yang menguasai hati kita, maka yakinlah bahwa pengalaman kita pun akan menjadi sangat positif. Anak-anak, sungguh saya sangat mencintai kalian. Love u….

Senin, 21 November 2011

Jangan bersedih...

Jangan bersedih. Demikian pesan al-qur`an pada kita. Tapi tetap saja saya merasa sedih. Apa pasal? Niate akan ngcopy data dari komputer ke flashdisk, tapi yang terjadi justru flashdisk-ku kebanjiran virus. Duh, jan. Mana ga ada yang ditanyai untuk mengatasinya bagaimana. Bingung. Sedih. Akhirnya, file yang sudah didapat belum dapat dikeluarkan. Repot juga tidak punya komputer dan akses komputer sendiri. Yah, selamat menikmati kebodohan diri. Makanya, belajar, biar ga sedih lagi. Padahal, itu file penting sekali. Sebagai bahan penyusunan tugas metodologi penelitian yang harus dikumpul hari kamis ini. Jangan sedih. Yang harus dilakukan sekarang adalah terus belajar.

Jumat, 14 Oktober 2011

CATATAN MALAM SABTU

Sepenuh syukur saya panjatkan ke hadirat Allah swt. Entah mengapa, saya merasa begitu bahagia malam ini. Mungkin, karena bisa nge-blog lagi, setelah sekian lama tidak menjangkau media berbagi ini.

Banyak hal terjadi selama satu tahun ini. Oh, bukan. Bahkan mungkin 1,5 tahun. Sangat lama. Cerita tentang perkuliahan, belum pernah saya kisahkan. Ya, sejak September 2010 yang lalu, saya kuliah lagi di STAIN Purwokerto. Gedungnya sudah tambah megah, program perkuliahan semakin banyak dan cuantik, dosennya tambah sip-sip, dan yang pasti, biaya tentu semakin mahal. Hehehe

Saya bersyukur, bisa mengenyam pendidikan kembali. Barangkali, teman-teman yang melihat aktivitas saya sekarang, heran. Bagaimana mungkin, dengan kegiatan yang padat (sebenarnya bukan padat, tapi sering bolak-balik saja. hehehe), saya masih bisa bilang 'sangat bahagia'.

Bayangkan saja, teman-teman. Senin-Rabu, saya full ngajar di SD. Kamis, hanya sampai jam 9 saya mengajar. Lalu cabut ke STAIN Purwokerto, yang jarak tempuh dengan kendaraan umum sekitar 3-4 jam. Lalu kuliah sampai malam. Jum'at pagi, saya sengaja mengosongkan jam mengajar di sekolah, karena Jum'at sore masih ada kuliah. Sekedar dengan pertimbangan untuk efektifitas waktu saja. Bolak-balik 6-8 jam, bukankah itu cukup menguras tenaga? Setengah hari Jum'at itu, saya manfaatkan untuk bercengkrama dengan putri tersayangku (Azzahrotu Labibah; 22 bulan). Selepas Jum'at, berangkat ke STAIN Purwokerto lagi. Kuliah lagi sampai malam (sekitar jam 20.30 selesai). Lalu istirahat. Sabtu, jam 02.30, harus sudah ada di pinggir jalan raya menunggu bus yang akan mengantar ke tempat kerja. Bila agak siang sedikit saja, maka bisa dipastikan, akan semakin siang saya sampai di sekolah. Alhamdulillah, teman-teman kerja menyadari keadaan saya ini. Mereka maklum. Tapi yo moso, telat kok jadi kebiasaan. Ga enak juga lama-lama. Sabtu sore (sekitar jam 14.00), saya pulang ke rumah di Pekuncen. Bermalam minggu di rumah (meski kadang-kadang lembur di sekolah juga; artinya ga mudik), lalu Ahad pagi sampai siang, saya berkesempatan liburan penuh dengan anak dan suami. Ahad selepas dzuhur, saya kembali ke tempat kerja (dengan pertimbangan, agar Senin pagi tidak gugup). Demikianlah siklus setiap minggunya. Dan itu sudah berjalan berbulan-bulan, dan saya menikmatinya, dan Allah membukakan satu demi satu pintu keindahan dibalik kepayahan tersebut yang selama ini saya tidak menyadarinya.

Semua sudah ada jalurnya masing-masing. Pada kuliah yang tadi sore saya ikuti, ada satu kata kunci tentang RIZKI. Bahwa dalam Bahasa Arab, kata RIZKI ditulis dalam tiga huruf (Ra Za dan Qof). Ditransliterasikan: R Z K. Ternyata, RZK itu bukan tanpa makna. RZK memiliki makna ganda. Bisa berarti Rezeki, bisa juga berarti Reziko. Nah, jadi, dalam setiap rezeki yang kita terima, bukan semata-mata mengandung unsur kesenangan belaka. Namun, ada reziko juga di dalamnya. Ini artinya, kita diajarkan untuk berlaku sewajarnya saja (tiba tengah; orang jawa bilang). Senang ya sewajarnya. Karena, kesenangan itu pastilah untuk membeli sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan dibaliknya. Namun, sedih pun juga sewajarnya saja. Karena, dibalik kesedihan itu, pasti ada hikmah besar yang sering kita itu tidak tahu. Lho, lho, kok jadi nglantur.

Pokoknya, malam ini, saya bahagia bisa menulis lagi. Bisa berbagi lagi. Mudah-mudahan, ke depan, bisa lebih teratur menulis. Bisa menjadi penulis (karena kata pak Misbah barusan, seorang guru itu harus terbiasa menulis). Bisa menjadi peneliti (karena kata pak Sony kemarin, guru itu hendaknya piawai meneliti. Bukankah banyak permasalahan pendidikan yang harus dipecahkan???). Bisa menjadi manusia yang luar biasa (demikian kata pak Ridwan). Bisa menjadi guru yang benar-benar berkepribadian (demikian pak Nurfuadi dan pak Asdlori ngendika). Bisa menjadi sosok yang menghargai dan memanusiakan yang lain selayaknya (demikian pak Toifur mewasiatkan). Wah, pokoknya, kuliah S-1 ini, luar biasa, yah. Lebih banyak tantangan. Lebih banyak kesempatan untuk berkembang. Tinggal bagaimana memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada. Dan, besok pagi, jam 02.30, harus sudah di pinggir jalan raya, menunggu bus yang akan mengantarku ke tempat kerja. SEMANGAT! BISMILLAH!

Selasa, 10 Agustus 2010

MARHABAN YA RAMADAN


Marhaban Ya Ramadan
Kami tunggu kehadiranmu
Kami nanti Lailatul Qadarmu
Kami harapkan bersih jiwa raga di dalammu

Ramadan
Bulan rahmat
Bulan berkah
Bulan magfirah

Ramadan
smoga kita bisa
mengisinya dengan selaksa amal
Aamiin




Alhamdulillah, bertemu lagi dengan ramadan. Ramadan tahun ini, menjadi lebih mengesankan dengan adanya sang buah hati yang telah hadir menghiasi hari-hariku. Meski tak selalu bersama, namun senyum yang selalu terbayang dalam hati, menjadi salah satu sumber inspirasi tak terhingga bagiku untuk selalu berkarya sebaik-baiknya. Terimakasih ya Nak.. Maaf, mama tak bisa selalu menemanimu. Namun itu bukan berarti, mama tak sayang padamu.

Marhaban Ya Ramadan...
Selalu ada rasa menyesak di dada menghadapi bulan mulia ini. Segala rasa, segala pengharapan memuncak dalam hati. Mudah-mudahan, Allah senantiasa membimbing dan memudahkan jalan untuk mencapai rido-Nya selalu. Apalagi, di bulan yang mulia ini. Aamiin

Ya Allah...
Berilah kami keringanan hati, untuk menggiatkan amalan-amalan nan salih di bulan yang mulia ini. Hilangkanlah segala rasa sungkan dan malas, gerakkanlah jiwa raga kami untuk senantiasa beramal dan berkarya dengan amal-amal yang Engkau ridoi. Aamiin

Marhaban Ya Ramadan. Selamat menunaikan ibadah puasa 1431 H. Mohon maaf lahir batin, ya....

Jumat, 07 Mei 2010

MEMBENTUK KELUARGA ISLAMI



Mayoritas manusia tentu mendambakan kebahagiaan, menanti ketentraman dan ketanangan jiwa. Tentu pula semua menghindari dari berbagai pemicu gundah gulana dan kegelisahan. Terlebih dalam lingkngan keluarga. Ingatlah semua ini tak akan terwujud kecuali dengan iman kepada Alloh, tawakal dan mengembalikan semua masalah kepadaNya, disamping melakukan berbagai usaha yang sesuai dengan syari'at.

Pentingnya Keharmonisan Keluarga Yang paling berpengaruh buat pribadi dan masyarakat adalah pembentukan keluarga dan komitmennya pada kebenaran. Alloh dengan hikmahNya telah mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal dengan tentram di dalamnya. FirmanNya: "dan diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia mencipatakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan diajadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar Rum: 21)

Ya.supaya engkau cenderung dan merasa tentram kepadanya (Alloh tidak mengatakan: 'supaya kamu tinggal bersamanya'). Ini menegaskan makna tenang dalam perangai dan jiwa serta menekankan wujudnya kedamaian dalam berbagai bentuknya.

Maka suami istri akan mendapatkan ketenangan pada pasangannya di kala datang kegelisahan dan mendapati kelapangan di saat dihampiri kesempitan. Sesungguhnya pilar hubungan suami istri adalah kekerabatan dan pershabatan yang terpancang di atas cinta dan kasih sayang. Hubungan yang mendalam dan lekat ini mirip dengan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Al Qur'an menjelaskan: "Mereka itu pakaian bagimu dan kamu pun pakaian baginya." (Al Baqarah: 187)

Terlebih lagi ketika mengingat apa yang dipersiapkan bagi hubungan ini misalnya; penddidikan anak dan jaminan kehidupan, yang tentu saja tak akan terbentuk kecuali dalam atmosfir keibuan yang lembut dan kebapakan yang semangat dan serius. Adakah di sana komunitas yang lebih bersih dari suasana hubungan yang mulia ini?

Pilar Peyangga Keluarga Islami

1. Iman dan Taqwa
Faktor pertama dan terpenting adalah iman kepada Alloh dan hari akhir, takut kepada Dzat Yang memperhatikan segala yang tersembunyi serta senantiasa bertaqwa dan bermuraqabbah (merasa diawasi oleh Alloh) lalu menjauh dari kedhaliman dan kekeliruan di dalam mencari kebenaran.

"Demikian diberi pengajaran dengan itu, orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia kan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia kan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan keperluannya." (Ath Thalaq: 2-3)

Di antara yang menguatkan tali iman yaitu bersungguh-sungguh dan serius dalam ibadah serta saling ingat-mengingatkan. Perhatikan sabda Rasululloh: "Semoga Alloh merahmati suami yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula istrinya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya. Dan semoga Alloh merahmati istri yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula suaminya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya." (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa'i, Ibnu Majah).

Hubungan suami istri bukanlah hubungan duniawi atau nafsu hewani namun berupa interaksi jiwa yang luhur. Jadi ketika hubungan itu shahih maka dapat berlanjut ke kehidupan akhirat kelak. FirmanNya: "Yaitu surga 'Adn yang mereka itu masuk di dalamnya bersama-sama orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya." (Ar Ra'du: 23)

2. Hubungan Yang Baik
Termasuk yang mengokohkan hal ini adalah pergaulan yang baik. Ini tidak akan tercipt akecuali jika keduanya saling mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing.

Mencari kesempurnaan dalam keluarga dan naggotanya adalah hal mustahil dan merasa frustasi daklam usha melakukan penyempurnan setiap sifat mereka atau yang lainnya termasuk sia-sia juga.

3. Tugas Suami
Seorang suami dituntut untuk lebih bisa bersabar ketimbang istrinya, dimana istri itu lemah secara fisik atau pribadinya. Jika ia dituntut untuk melakukan segala sesuatu maka ia akan buntu.

Teralalu berlebih dalam meluruskannya berarti membengkokkannya dan membengkokkannya berarti menceraikannya. Rasululloh bersabda: "Nasehatilah wanita dengan baik. Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang bengkok dari rusuk adalah bagian atasnya. Seandainya kamu luruskan maka berarti akan mematahkannya. Dan seandainya kamu biarkan maka akan terus saja bengkok, untuk itu nasehatilah dengan baik." (HR. Bukhari, Muslim)

Jadi kelemahan wanita sudah ada sejak diciptakan, jadi bersabarlah untuk menghadapinya. Seorang suami seyogyanya tidak terus-menerus mengingat apa yang menjadi bahan kesempitan keluarganya, alihkan pada beberapa sisi kekurangan mereka. Dan perhatikan sisi kebaikan niscaya akan banyak sekali.

Dalam hal ini maka berperilakulah lemah lembut. Sebab jika ia sudah melihat sebagian yang dibencinya maka tidak tahu lagi dimana sumber-sumber kebahagiaan itu berada. Alloh berfirman; "Dan bergaullah bersama mereka dengan patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Aloh menjadikannya kebaikan yang banyak." (An Nisa': 19)

Apabila tidak begitu lalu bagaimana mungkin akan tercipta ketentraman, kedamaian dan cinta kasih itu: jika pemimpin keluarga itu sendiri berperangai keras, jelek pergaulannya, sempit wawasannya, dungu, terburu-buru, tidak pemaaf, pemarah, jika masuk terlalu banyak mengungkit-ungkit kebaikan dan jika keluar selalu berburuk sangka.

Padahal sudah dimaklumi bahwa interaksi yang baik dan sumber kebahagiaan itu tidaklah tercipta kecuali dengan kelembutan dan menjauhakan diri dari prasangka yang tak beralasan. Dan kecemburuan terkadang berubah menjadi prasangka buruk yang menggiringnya untuk senantiasa menyalah tafsirkan omongan dan meragukan segala tingkah laku. Ini tentu akan membikin hidup terasa sempit dan gelisah dengan tanpa alasan yang jelas dan benar.

4. Tugas Istri
Kebahagiaan, cinta dan kasih sayang tidaklah sempurna kecuali ketika istri mengetahui kewajiban dan tiada melalaikannya. Berbakti kepada suami sebagai pemimpin, pelindung, penjaga dan pemberi nafkah. Taat kepadanya, menjaga dirinya sebagi istri dan harta suami. Demikian pula menguasai tugas istri dan mengerjakannya serta memperhatikan diri dan rumahnya.

Inilah istri shalihah sekaligus ibu yang penuh kasih sayang, pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Juga mengakui kecakapan suami dan tiada mengingkari kebaikannya. Untuk itu seyogyanya memaafkan kekeliruan dan mangabaikan kekhilafan. Jangan berperilaku jelek ketika suami hadir dan jangan mengkhianati ketika ia pergi.

Dengan ini sudah barang tentu akan tercapai saling meridhai, akan langgeng hubungan, mesra, cinta dan kasih sayang. Dalam hadits: "Perempuan mana yang meninggal dan suaminya ridha kepadanya maka ia masuk surga." (HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah)

Maka bertaqwalah wahai kaum muslimin! Ketahuilah bahwa dengan dicapainya keharmonisan akan tersebarlah semerbak kebahagiaan dan tercipta suasana yang kondusif bagi tarbiyah.

Selain itu tumbuh pula kehidupan di rumah yang mulia dengan dipenuhi cinta kasih dan saling pengertian anatar sifat keibuan yang penuh kasih sayang dan kebapakan yang tegas, jauh dari cekcok, perselisihan dan saling mendhalimi satu sama lain. Juga tak ada permusuhan dan saling menyakiti.

Penutup
Lurusnya keluarga menjadi media untuk menciptakan keamanan masyarakat. Bagaimana bisa aman bila ikatan keluarga telah amburadul. Padahal Alloh memberi kenikmatan ini yaitu kenikmatan kerukunan keluarga, kemesraan dan keharmonisannya.

Hubungan suami istri yang sangat solid dan fungsinya sebagai orang tua di tambah anak-anaknya yang tumbuh dalam asuhan mereka, merupakan gambaran umat terkini dan masadepan. Karena itu ketika setan berhasil menceraikan hubungan keluarga dia tidak sekadar menggoncangkan sebuah keluarga namun juga menjerumuskan masyarakat seluruhnya ke dalam kebobrokan yang merajalela. Realita sekarang menjadi bukti.

Semoga Alloh merahmati pria yang perilakunya terpuji, baik hatinya, pandai bergaul (terhadap keluarga), lemah lembut, pengasih, penyayang, tekun, tidak berlebihan dan tiada lalai dengan kewajibannya. Semoga Alloh merahmati pula wanita yang tidak mencari-cari kekeliruan, tidak cerewet, shalihah, taat dan memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada karena Alloh telah memeliharanya.

Bertaqwalah wahai kaum muslimin, wahai suami istri. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaaya akan dimudahkan urusannya. (Syeikh Shalih bin Abdullah bin Al Humaid).

Jumat, 06 Maret 2009

MAKA, WAL'ASHRI

Beginilah bila waktu tidak dimenej dengan baik. Semuanya menjadi kacau beliau. Fiuhh...Hari ini melelahkan sekali.

Sudah sejak jauh-jauh hari, Bu Asiah (koordinator soal Akidah Akhlak KKG Kabupaten Banyumas) menyarankan agar kisi-kisi soal dan soal segera dibuat. Tapi apa yang terjadi saudara-saudara?

Ternyata, dengan beralasan sekian banyak hal, maka pengerjaan kisi-kisi soal dan soal itu, tidak bisa saya kerjakan dengan baik. Bahkan hingga hari ini, Sabtu, 7 Maret 2009, deadline kisi-kisi dan soal harus dikumpulkan, akhirnya saya tidak bisa memenuhi tuntutan itu.

Alhasil, hari ini dibuka dengan sebuah sms kepada bu Asiah: "maaf, bu, kisi-kisinya belum dirapikan. Saya mendahulukan soalnya saja dulu, mengingat waktu".

Untungnya Bu Asiah baek banget. Selalu ada kemakluman yang tinggi untuk keteledoran saya.
"Ya, boleh. usahakan jam 10 pagi ini dah jadi"

OK.

Selanjutnya, saya sport jantung di rentalan komputer. Jarum jam sudah menunjuk angka 07.30. Komputer bermasalah. Sudah hampir 10 nomor soal yang diketik, tiba-tiba mati dengan sendirinya. Dicoba untuk dibuka sejak awal. Alhamdulillah, gagal. Ada trouble serius pada komputer yang saya gunakan. Akhirnya, saya pindah komputer. Konsekwensinya, menulis lagi sejak awal. Dan, tak bisa menggandakan data yang saya buat itu ke CD. Padahal, ketentuannya adalah: 1 berkas prin out soal dan 1 buah CD. Yah...

Jam 09.00. Alhamdulillah, soal selesai diketik. Lengkap dengan kunci jawabannya. Setelah menyempatkan memfotmat flashdisk yang full virus, dan mengcopi soal ke flshdisk, saya cabut ke Ajibarang.

Turun di perempatan pasar hewan, jalan kaki ke MI Ma'arif NU 01 Ajibarang Kulon. Baru jam 09.40 saat saya tiba di MIMA tersebut. Dan Ibu Asiah belum rawuh. Yes! Berarti saya tidak telat. Setelah menitipkan berkas soal dan mengcopi data yang di flashdisk ke komputer MIMA, saya melanjutkan perjalanan ke Kantor Pos Ajibarang.

Setelah duduk manis di bangku tunggu di kantor pos itu, saya buka tas. Mencari dompet yang di dalamnya saya simpan kartu ATM. Rencananya, akan saya tambah saldonya. Tapi....

Ternyata tidak ada.

Segera, saya ke MIMA kembali. Dan setelah dicari-cari pun, ternyata di sana juga tidak ditemukan. So, dimana, yah? Jujur, saya agak panik. Ini pengalaman pertama bagi saya kehilangan dompet. hehehe...

Lalu, saya coba sms mba Lina; yang punya rentalan komputer; menanyakan tentang dompet itu. Dan hasilnya...

Tetap tidak ada.

Whaduh...pasrah dech.

Saya ke warnet. Rencananya, akan meng up load DNS MAM Pekuncen. Dan ternyata, setelah berkali-kali mencoba username dan passwordnya, tetap NIHIL.

Maka, saya sms ke dindik Banyumas, menanyakan perihal ketidakbisaan upload ini. Dan hasilnya....

Hari Selasa, silakan ke diknas.

Alhamdulillah, ada solusi jelas. Makasih ya Pak...

Dan ada sebuah sms masuk. Memberikan kabar gembira, ternyata dompet saya ditemukan. Anaknya mba Lina yang menemukan. Makasih ya Senda... Alhamdulillah....

Dari kocar-kacirnya saya bergelut dengan waktu hari ini, maka saya selalu kembali kepada: Ayo donk...manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Persiapkan semuanya sejak semalam, agar lebih siap menyambut dan menjalani hari. Tapi sungguh, itu bukan hal mudah.

Alhamdulillah, Astaghfirullah....

Salam.