Selasa, 10 Agustus 2010

MARHABAN YA RAMADAN


Marhaban Ya Ramadan
Kami tunggu kehadiranmu
Kami nanti Lailatul Qadarmu
Kami harapkan bersih jiwa raga di dalammu

Ramadan
Bulan rahmat
Bulan berkah
Bulan magfirah

Ramadan
smoga kita bisa
mengisinya dengan selaksa amal
Aamiin




Alhamdulillah, bertemu lagi dengan ramadan. Ramadan tahun ini, menjadi lebih mengesankan dengan adanya sang buah hati yang telah hadir menghiasi hari-hariku. Meski tak selalu bersama, namun senyum yang selalu terbayang dalam hati, menjadi salah satu sumber inspirasi tak terhingga bagiku untuk selalu berkarya sebaik-baiknya. Terimakasih ya Nak.. Maaf, mama tak bisa selalu menemanimu. Namun itu bukan berarti, mama tak sayang padamu.

Marhaban Ya Ramadan...
Selalu ada rasa menyesak di dada menghadapi bulan mulia ini. Segala rasa, segala pengharapan memuncak dalam hati. Mudah-mudahan, Allah senantiasa membimbing dan memudahkan jalan untuk mencapai rido-Nya selalu. Apalagi, di bulan yang mulia ini. Aamiin

Ya Allah...
Berilah kami keringanan hati, untuk menggiatkan amalan-amalan nan salih di bulan yang mulia ini. Hilangkanlah segala rasa sungkan dan malas, gerakkanlah jiwa raga kami untuk senantiasa beramal dan berkarya dengan amal-amal yang Engkau ridoi. Aamiin

Marhaban Ya Ramadan. Selamat menunaikan ibadah puasa 1431 H. Mohon maaf lahir batin, ya....

Jumat, 07 Mei 2010

MEMBENTUK KELUARGA ISLAMI



Mayoritas manusia tentu mendambakan kebahagiaan, menanti ketentraman dan ketanangan jiwa. Tentu pula semua menghindari dari berbagai pemicu gundah gulana dan kegelisahan. Terlebih dalam lingkngan keluarga. Ingatlah semua ini tak akan terwujud kecuali dengan iman kepada Alloh, tawakal dan mengembalikan semua masalah kepadaNya, disamping melakukan berbagai usaha yang sesuai dengan syari'at.

Pentingnya Keharmonisan Keluarga Yang paling berpengaruh buat pribadi dan masyarakat adalah pembentukan keluarga dan komitmennya pada kebenaran. Alloh dengan hikmahNya telah mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal dengan tentram di dalamnya. FirmanNya: "dan diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia mencipatakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan diajadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar Rum: 21)

Ya.supaya engkau cenderung dan merasa tentram kepadanya (Alloh tidak mengatakan: 'supaya kamu tinggal bersamanya'). Ini menegaskan makna tenang dalam perangai dan jiwa serta menekankan wujudnya kedamaian dalam berbagai bentuknya.

Maka suami istri akan mendapatkan ketenangan pada pasangannya di kala datang kegelisahan dan mendapati kelapangan di saat dihampiri kesempitan. Sesungguhnya pilar hubungan suami istri adalah kekerabatan dan pershabatan yang terpancang di atas cinta dan kasih sayang. Hubungan yang mendalam dan lekat ini mirip dengan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Al Qur'an menjelaskan: "Mereka itu pakaian bagimu dan kamu pun pakaian baginya." (Al Baqarah: 187)

Terlebih lagi ketika mengingat apa yang dipersiapkan bagi hubungan ini misalnya; penddidikan anak dan jaminan kehidupan, yang tentu saja tak akan terbentuk kecuali dalam atmosfir keibuan yang lembut dan kebapakan yang semangat dan serius. Adakah di sana komunitas yang lebih bersih dari suasana hubungan yang mulia ini?

Pilar Peyangga Keluarga Islami

1. Iman dan Taqwa
Faktor pertama dan terpenting adalah iman kepada Alloh dan hari akhir, takut kepada Dzat Yang memperhatikan segala yang tersembunyi serta senantiasa bertaqwa dan bermuraqabbah (merasa diawasi oleh Alloh) lalu menjauh dari kedhaliman dan kekeliruan di dalam mencari kebenaran.

"Demikian diberi pengajaran dengan itu, orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia kan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia kan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan keperluannya." (Ath Thalaq: 2-3)

Di antara yang menguatkan tali iman yaitu bersungguh-sungguh dan serius dalam ibadah serta saling ingat-mengingatkan. Perhatikan sabda Rasululloh: "Semoga Alloh merahmati suami yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula istrinya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya. Dan semoga Alloh merahmati istri yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula suaminya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya." (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa'i, Ibnu Majah).

Hubungan suami istri bukanlah hubungan duniawi atau nafsu hewani namun berupa interaksi jiwa yang luhur. Jadi ketika hubungan itu shahih maka dapat berlanjut ke kehidupan akhirat kelak. FirmanNya: "Yaitu surga 'Adn yang mereka itu masuk di dalamnya bersama-sama orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya." (Ar Ra'du: 23)

2. Hubungan Yang Baik
Termasuk yang mengokohkan hal ini adalah pergaulan yang baik. Ini tidak akan tercipt akecuali jika keduanya saling mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing.

Mencari kesempurnaan dalam keluarga dan naggotanya adalah hal mustahil dan merasa frustasi daklam usha melakukan penyempurnan setiap sifat mereka atau yang lainnya termasuk sia-sia juga.

3. Tugas Suami
Seorang suami dituntut untuk lebih bisa bersabar ketimbang istrinya, dimana istri itu lemah secara fisik atau pribadinya. Jika ia dituntut untuk melakukan segala sesuatu maka ia akan buntu.

Teralalu berlebih dalam meluruskannya berarti membengkokkannya dan membengkokkannya berarti menceraikannya. Rasululloh bersabda: "Nasehatilah wanita dengan baik. Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang bengkok dari rusuk adalah bagian atasnya. Seandainya kamu luruskan maka berarti akan mematahkannya. Dan seandainya kamu biarkan maka akan terus saja bengkok, untuk itu nasehatilah dengan baik." (HR. Bukhari, Muslim)

Jadi kelemahan wanita sudah ada sejak diciptakan, jadi bersabarlah untuk menghadapinya. Seorang suami seyogyanya tidak terus-menerus mengingat apa yang menjadi bahan kesempitan keluarganya, alihkan pada beberapa sisi kekurangan mereka. Dan perhatikan sisi kebaikan niscaya akan banyak sekali.

Dalam hal ini maka berperilakulah lemah lembut. Sebab jika ia sudah melihat sebagian yang dibencinya maka tidak tahu lagi dimana sumber-sumber kebahagiaan itu berada. Alloh berfirman; "Dan bergaullah bersama mereka dengan patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Aloh menjadikannya kebaikan yang banyak." (An Nisa': 19)

Apabila tidak begitu lalu bagaimana mungkin akan tercipta ketentraman, kedamaian dan cinta kasih itu: jika pemimpin keluarga itu sendiri berperangai keras, jelek pergaulannya, sempit wawasannya, dungu, terburu-buru, tidak pemaaf, pemarah, jika masuk terlalu banyak mengungkit-ungkit kebaikan dan jika keluar selalu berburuk sangka.

Padahal sudah dimaklumi bahwa interaksi yang baik dan sumber kebahagiaan itu tidaklah tercipta kecuali dengan kelembutan dan menjauhakan diri dari prasangka yang tak beralasan. Dan kecemburuan terkadang berubah menjadi prasangka buruk yang menggiringnya untuk senantiasa menyalah tafsirkan omongan dan meragukan segala tingkah laku. Ini tentu akan membikin hidup terasa sempit dan gelisah dengan tanpa alasan yang jelas dan benar.

4. Tugas Istri
Kebahagiaan, cinta dan kasih sayang tidaklah sempurna kecuali ketika istri mengetahui kewajiban dan tiada melalaikannya. Berbakti kepada suami sebagai pemimpin, pelindung, penjaga dan pemberi nafkah. Taat kepadanya, menjaga dirinya sebagi istri dan harta suami. Demikian pula menguasai tugas istri dan mengerjakannya serta memperhatikan diri dan rumahnya.

Inilah istri shalihah sekaligus ibu yang penuh kasih sayang, pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Juga mengakui kecakapan suami dan tiada mengingkari kebaikannya. Untuk itu seyogyanya memaafkan kekeliruan dan mangabaikan kekhilafan. Jangan berperilaku jelek ketika suami hadir dan jangan mengkhianati ketika ia pergi.

Dengan ini sudah barang tentu akan tercapai saling meridhai, akan langgeng hubungan, mesra, cinta dan kasih sayang. Dalam hadits: "Perempuan mana yang meninggal dan suaminya ridha kepadanya maka ia masuk surga." (HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah)

Maka bertaqwalah wahai kaum muslimin! Ketahuilah bahwa dengan dicapainya keharmonisan akan tersebarlah semerbak kebahagiaan dan tercipta suasana yang kondusif bagi tarbiyah.

Selain itu tumbuh pula kehidupan di rumah yang mulia dengan dipenuhi cinta kasih dan saling pengertian anatar sifat keibuan yang penuh kasih sayang dan kebapakan yang tegas, jauh dari cekcok, perselisihan dan saling mendhalimi satu sama lain. Juga tak ada permusuhan dan saling menyakiti.

Penutup
Lurusnya keluarga menjadi media untuk menciptakan keamanan masyarakat. Bagaimana bisa aman bila ikatan keluarga telah amburadul. Padahal Alloh memberi kenikmatan ini yaitu kenikmatan kerukunan keluarga, kemesraan dan keharmonisannya.

Hubungan suami istri yang sangat solid dan fungsinya sebagai orang tua di tambah anak-anaknya yang tumbuh dalam asuhan mereka, merupakan gambaran umat terkini dan masadepan. Karena itu ketika setan berhasil menceraikan hubungan keluarga dia tidak sekadar menggoncangkan sebuah keluarga namun juga menjerumuskan masyarakat seluruhnya ke dalam kebobrokan yang merajalela. Realita sekarang menjadi bukti.

Semoga Alloh merahmati pria yang perilakunya terpuji, baik hatinya, pandai bergaul (terhadap keluarga), lemah lembut, pengasih, penyayang, tekun, tidak berlebihan dan tiada lalai dengan kewajibannya. Semoga Alloh merahmati pula wanita yang tidak mencari-cari kekeliruan, tidak cerewet, shalihah, taat dan memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada karena Alloh telah memeliharanya.

Bertaqwalah wahai kaum muslimin, wahai suami istri. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaaya akan dimudahkan urusannya. (Syeikh Shalih bin Abdullah bin Al Humaid).

Jumat, 06 Maret 2009

MAKA, WAL'ASHRI

Beginilah bila waktu tidak dimenej dengan baik. Semuanya menjadi kacau beliau. Fiuhh...Hari ini melelahkan sekali.

Sudah sejak jauh-jauh hari, Bu Asiah (koordinator soal Akidah Akhlak KKG Kabupaten Banyumas) menyarankan agar kisi-kisi soal dan soal segera dibuat. Tapi apa yang terjadi saudara-saudara?

Ternyata, dengan beralasan sekian banyak hal, maka pengerjaan kisi-kisi soal dan soal itu, tidak bisa saya kerjakan dengan baik. Bahkan hingga hari ini, Sabtu, 7 Maret 2009, deadline kisi-kisi dan soal harus dikumpulkan, akhirnya saya tidak bisa memenuhi tuntutan itu.

Alhasil, hari ini dibuka dengan sebuah sms kepada bu Asiah: "maaf, bu, kisi-kisinya belum dirapikan. Saya mendahulukan soalnya saja dulu, mengingat waktu".

Untungnya Bu Asiah baek banget. Selalu ada kemakluman yang tinggi untuk keteledoran saya.
"Ya, boleh. usahakan jam 10 pagi ini dah jadi"

OK.

Selanjutnya, saya sport jantung di rentalan komputer. Jarum jam sudah menunjuk angka 07.30. Komputer bermasalah. Sudah hampir 10 nomor soal yang diketik, tiba-tiba mati dengan sendirinya. Dicoba untuk dibuka sejak awal. Alhamdulillah, gagal. Ada trouble serius pada komputer yang saya gunakan. Akhirnya, saya pindah komputer. Konsekwensinya, menulis lagi sejak awal. Dan, tak bisa menggandakan data yang saya buat itu ke CD. Padahal, ketentuannya adalah: 1 berkas prin out soal dan 1 buah CD. Yah...

Jam 09.00. Alhamdulillah, soal selesai diketik. Lengkap dengan kunci jawabannya. Setelah menyempatkan memfotmat flashdisk yang full virus, dan mengcopi soal ke flshdisk, saya cabut ke Ajibarang.

Turun di perempatan pasar hewan, jalan kaki ke MI Ma'arif NU 01 Ajibarang Kulon. Baru jam 09.40 saat saya tiba di MIMA tersebut. Dan Ibu Asiah belum rawuh. Yes! Berarti saya tidak telat. Setelah menitipkan berkas soal dan mengcopi data yang di flashdisk ke komputer MIMA, saya melanjutkan perjalanan ke Kantor Pos Ajibarang.

Setelah duduk manis di bangku tunggu di kantor pos itu, saya buka tas. Mencari dompet yang di dalamnya saya simpan kartu ATM. Rencananya, akan saya tambah saldonya. Tapi....

Ternyata tidak ada.

Segera, saya ke MIMA kembali. Dan setelah dicari-cari pun, ternyata di sana juga tidak ditemukan. So, dimana, yah? Jujur, saya agak panik. Ini pengalaman pertama bagi saya kehilangan dompet. hehehe...

Lalu, saya coba sms mba Lina; yang punya rentalan komputer; menanyakan tentang dompet itu. Dan hasilnya...

Tetap tidak ada.

Whaduh...pasrah dech.

Saya ke warnet. Rencananya, akan meng up load DNS MAM Pekuncen. Dan ternyata, setelah berkali-kali mencoba username dan passwordnya, tetap NIHIL.

Maka, saya sms ke dindik Banyumas, menanyakan perihal ketidakbisaan upload ini. Dan hasilnya....

Hari Selasa, silakan ke diknas.

Alhamdulillah, ada solusi jelas. Makasih ya Pak...

Dan ada sebuah sms masuk. Memberikan kabar gembira, ternyata dompet saya ditemukan. Anaknya mba Lina yang menemukan. Makasih ya Senda... Alhamdulillah....

Dari kocar-kacirnya saya bergelut dengan waktu hari ini, maka saya selalu kembali kepada: Ayo donk...manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Persiapkan semuanya sejak semalam, agar lebih siap menyambut dan menjalani hari. Tapi sungguh, itu bukan hal mudah.

Alhamdulillah, Astaghfirullah....

Salam.

Selasa, 17 Februari 2009

SATU BULAN LAGI...

Satu bulan lagi, Insya Allah...

Deg-degan rasanya menunggu bulan depan. Perjalanan pencarian pendamping hidup selama tujuh tahun, mudah-mudahan berakhir bulan depan. Aamiin

Tujuh tahun?

Bagaimana bukan tujuh tahun namanya, bila saat itu saya bercita-cita menikah di usia sembilan belas tahun, dan usia saya sekarang dua puluh enam tahun.

Sembilan belas?

Iya. Waktu itu, saya terobsesi untuk juga menikah dini seperti mama. Mama menikah di usia sembilan belas tahun. Tanpa tahu rahasia Allah, saya juga bercita-cita seperti itu. Tapi Allah Maha Penuh Kejutan!

Waktu terus bergulir. Melewati angka dua puluh dalam tahun kehidupanku, melindas angka dua puluh satu, menghampiri angka dua puluh dua, meniti angka dua puluh tiga, menjumpai angka dua puluh empat, menjemput angka dua puluh lima, dan tahun ini, genap memasuki angka dua puluh enam dalam hitungan usiaku.

Dua puluh enam.

Mungkin sudah tak lagi ideal untuk dikatakan sebagai pernikahan dini. Bahkan teman saya yang kuliah di psikologi pernah menyatakan, setelah melewati angka dua puluh lima, itu artinya bagi wanita lampu hampir menyala merah. Tapi bukankah pernikahan; bagaimanapun juga adalah sebuah takdir?

Maka, menyesal tak akan pernah ada gunanya. Bukankah dengan tidak menikah di usia sembilan belas tahun, setidaknya kini saya tahu, bahwa Allah telah menyiapkan garis hidup nan indah yang harus saya titi. Saya bisa kuliah dulu, setidaknya sampai lulus D2. Saya bisa mencicipi seperti apakah rasanya memiliki uang sendiri setiap bulan, meski tak seberapa. Bisa belajar menjadi ibu bagi anak-anak dengan berbagai karakternya di sekolah. Bisa pergi kesana kemari untuk bersosialisasi dengan teman-teman satu organisasi, tanpa merasa bersalah karena meninggalkan suami dan anak-anak di rumah. Sungguh, saya yakin, ini semua adalah hikmah yang saya hanya boleh tahu setelah semua itu saya tempuh.

Beberapa kali mencoba membina hubungan yang serius; yang akhirnya gagal; juga meyakinkaku, bahwa pasti ada hikmah di balik semua ini. Setidaknya, saya bisa lebih introspeksi diri. Pasti ada sesuatu yang salah pada diriku, sehingga Allah belum memperkenankan cita-cita ini.

Dan kini... satu bulan lagi...

Deg-degan. Sekian banyak tanya berseliweran di kepalaku. Bagaimanakah rasanya menikah itu? Mendampingi lelaki yang sama sekali asing bagiku (saya mengenalnya belum ada satu tahun!). Bisakah saya menjadi istri yang baik, kelak? Bagaimanakah bila suamiku kelak tak berkenan dengan pelayananku? Bagaimanakah mengatasi konflik rumah tangga yang pasti akan mewarnai perjalanan pernikahan kami? Bagaimana.... 

Satu bulan lagi...

Ridloilah Ya Rabbi...

Inilah ikhtiar kami

Memenuhi titahMu dan titah RasulMu

Menggenapkan separuh agama

Melanggengkan kalimat tauhidMu di dunia

Ampunilah Ya Rabbi...

Bila jalan yang kami lalui

Tak sesuci para kekasihMu

Satu bulan lagi... Bismillaahirahmaanirrahiim

BELAJAR BERHITUNG

Enam puluh detik dalam satu menit. Tigaribu enam ratus detik dalam satu jam. Delapan puluh enam ribu empat ratus detik dalam sehari semalam. Bila ada satu kejadian saja dalam tiap satu detik, maka itu berarti, ada delapan puluh enam ribu empat ratus detik kejadian dalam sehari semalam.

Waow! Sebuah jumlah yang fantastis. Dan itu adalah sumber ide yang tak habis untuk ditulis. Belum lagi ada tujuh hari dalam satu minggu, dan ada rata-rata tiga puluh hari dalam satu bulan.

Ck! Ck! Ck! Subhanalloh... Betapa alam raya ini menyediakan diri untuk terus digali.

Tapi.... :-(

Yah... Kemanakah ada untuk selalu menulis yang pernah berkobar saat itu? Kemanakah? Huh! Penginnya menjadi seorang penulis. Penulis apa namanya, bila tak pernah menyengajakan diri untuk menulis? Bahkan saat mood mendidih dan ide berseliweran di sekelilingku. :-(

Duh Rabbi...

Kangen sekali untuk menulis lagi. Tahun kemarin, saya mewajibkan diri saya sendiri untuk menghasilkan satu buah buku kumpulan cerita. Dan hasilnya? Di akhir tahun, tak berhasil. Astaghfirullah...

Saya merasa sangat bersalah. Pada diri saya sendiri, dan juga pada teman-teman penulis yang telah menyuntikkan semangat padaku untuk menulis. Dan terus menulis. Memberiku kabar "setiap" ada event kepenulisan. 

Apakah cukup hanya bersedih dan merasa bersalah? Tentu tidak. So? Menulis lagi, yuk....

Bismillaahirrahmaanirrahiim..............

Sabtu, 03 Januari 2009

Alhamdulillah....

Alhamdulillah...
Saya lolos tes CPNS yang diadakan tanggal 7 Desember 2008 kemarin. Serasa tak percaya, saat saya menerima kabar itu. Catatan tentang 'peristiwa' mengharukan ini, sedang ketlingsep entah kemana. Jadi, belum bisa diteruskan kisahnya. ;-)
Hanya syukur kepada Allah, dan terima kasih atas segala dukungan dari teman-teman semuanya. Thanks Allah, thanks my friends.....