Syukurku kepada Ilahi Rabbi yang masih memberikanku nafas hingga detik ini. Beberapa waktu yang lalu, aku mencoba mengajukan mutasi (lagi). Setahun yang lalu, aku mengajukan mutasi dengan alasan mengikuti suami. Nihil. Bahkan Bapak Kepala UPT tidak berkenan memberikan ijin. Tahun ini, aku mengajukan mutasi dengan alasan bertukar tempat tugas dengan Guru Agama yang bertugas di Ajibarang. Sungguh, dalam perkiraanku, pengajuan yang sekarang akan berhasil. Namun Allah menghendaki lain.
Aku masih disini. Masih S1. Masih jauh dari suami dan anak-anak. Aku tidak tahu, apakah pilihanku ini benar. Apakah mengikuti kemauan suami untuk terus bekerja (dengan meninggalkan anak-anak dan jauh dari suami) adalah hal yang benar. Dengan dalih untuk masa depan.
Hari-hari belakangan ini aku menjadi sering kalut. Sering sedih. Sering menangis. Aku tidak tahu, apakah tangisanku ini wajar sebagai ekspresi seorang manusia biasa yang punya keinginan tapi tidak terwujud. Ataukah tangisanku ini menjadi tambahan dosa karena sungguh berat rasanya menerima keputusan Allah. Keputusan yang notabene.nya dulu aku juga yang memintanya. Namun setelah benar-benar diberikan, justru aku "menyesalinya".
Terkadang, aku merasa, bahwa aku menjadi korban dari ambisi suamiku yang ingin hidup mapan. Terkadang, aku merasa sangat tidak berguna. Dimana-mana, hanya menjadi beban hidup orang lain. Kapankah aku bisa menggenggam yang namanya kemandirian? Keberanian untuk mengambil keputusan? Aku bekerja, mamas bekerja. Tapi anak-anak menjadi korban. Meskipun, aku juga tidak tahu, apakah ketika anak-anak mengikuti orang tua yang penuh keraguan, mereka akan tumbuh setangguh sekarang?
Ya Alloh, ternyata sungguh berat perasaan yang harus aku bawa. Ternyata sungguh mahal harga yang harus aku bayar untuk sekedar bertemu dengan suami, anak-anak, orang tua... Orang-orang yang seharusnya menjadi pihak paling dekat dalam kehidupanku, tapi kini menjadi yang paling jauh karena keegoisanku menuruti pekerjaan.
Yaa Alloh. Aku tak tahu harus berkata apalagi. Benar, masih sangat banyak orang yang kondisinya jauh lebih memprihatinkan daripada aku. Tapi bukankah manusia diberikan pilihan oleh Allah? Tidakkah bisa manusia itu memilih jalan mana yang akan ditempuhnya?
Ya alloh, berikanlah kami kekuatan dan kesabaran dalam menjalani ini semua. Aku, tidak semata-mata bermaksud secara sengaja untuk meninggalkan anak-anakku. Melepaskan tanggung jawabku. Aku, hanya berusaha mencari yang lebih baik untuk lebih baiknya anak-anakku di masa yang akan datang. Aamiin Ya Robbal 'aalamiin...
Kamis, 01 September 2016
Jumat, 18 Maret 2016
MEMILIH MENJADI LEBIH DEWASA
Waktu berlalu demikian cepat. Serasa baru kemarin tanggal 1 Juni 2009, sekarang sudah tanggal 19 Maret 2016. Sepuluh hari lagi, usia pernikahanku genap 7 tahun. Ya. Tujuh tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk melewati semua yang telah terjadi, namun mendapati diriku sendiri sekarang lebih kompromi dengan keadaan, sepertinya itu adalah hadiah indah untuk diri sendiri yang layak untuk dinikmati.
Di awal pernikahan, aku merasakan menjadi "jaksa penuntut umum" untuk suamiku. Selalu berharap sempurna. Dan selalu ingin mendapatkan yang terbaik. Aku lupa, bahwa suamiku juga manusia biasa yang tak luput dari kekurangan. Aku pun, bila ditempatkan pada posisi suamiku yang selalu dituntut ini dan itu, belum tentu bisa menghadapinya. Astagfirullahal'adziim. Atas semua yang sudah berlalu, dan mungkin itu sangat menyakitkan kalbu, sungguh, mas, aku minta maaf padamu.
Kehadiran Ainun Mahya juga membawa perubahan positif dalam diriku. Setidaknya, aku belajar memahami betapa repotnya Firoh kala itu. Hal yang pada saat itu tidak terpikirkan. Sekarang, aku menyaksikanny. Betapa, menjadi ibu yang sebenarnya benar-benar membutuhkan ilmu, kesabaran, pengalaman, dan pembelajaran yang tiada habisnya.
Bolak-balik Kaliwungu-Dawuhan dengan frekuensi yang lebih dari biasanya membuka pikiranku bagaimana caranya bisa mendapatkan penghasilan minimal empat puluh ribu rupiah sehari. Pemikiran semacam itu, menurutku sangat luar biasa. Sebelum ini, aku tidak pernah terpikir untuk menekuni dunia perbisnisan. Ternyata, setelah aku tekadkan, dan aku tekuni, sangat mengasyikkan. Membuat jajanan anak-anak, yang mudah-mudahan tetap enak, sehat, dengan harga anak sekolahan. Lima ratus rupiah. Apa saja. Agar-agar. Kacang bawang. Hunkue. Nutrijell. Donat. Bolu kukus. Dan aku akan terus bereksperimen mengembangkan jenis jajanan yang lainnya lagi. Betapa sangat membahagiakan ketika dalam sehari ada pemasukan meski hanya lima ratus rupiah. Dan dua hari kemarin, aku berhasil memikat hati pembeli. Terbukti, agar-agar santan dan nutrijel yang aku buat, selalu habis di pasaran. Alhamdulillah. Hari ini maunya menitipkan bolu kukus, ternyata malah bolunya bantat. Hehehe..
Intinya, aku bahagia dengan keadaan yang sekarang. Meski lebih capai, tapi ritme hidup yang serasa baru, membuatku selalu bersemangat menjalani hari demi hari. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Itu sungguh benar adanya.
Aku juga tidak sebawel dulu terhadap mamas. Aku tidak terlalu sering mengeluh dan menuntut ini dan itu. Setidaknya, menurut perasaanku. Hehe. Pokoknya, dengan adanya kegiatan baru membuat jajanan anak-anak, hari-hariku menjadi lebih indah rasanya. Alhamdulillah....
Terimakasih Ya Allah. Perubahan positif ini tak lepas atas bimbingan-Mu. Alhamdulillah...
Di awal pernikahan, aku merasakan menjadi "jaksa penuntut umum" untuk suamiku. Selalu berharap sempurna. Dan selalu ingin mendapatkan yang terbaik. Aku lupa, bahwa suamiku juga manusia biasa yang tak luput dari kekurangan. Aku pun, bila ditempatkan pada posisi suamiku yang selalu dituntut ini dan itu, belum tentu bisa menghadapinya. Astagfirullahal'adziim. Atas semua yang sudah berlalu, dan mungkin itu sangat menyakitkan kalbu, sungguh, mas, aku minta maaf padamu.
Kehadiran Ainun Mahya juga membawa perubahan positif dalam diriku. Setidaknya, aku belajar memahami betapa repotnya Firoh kala itu. Hal yang pada saat itu tidak terpikirkan. Sekarang, aku menyaksikanny. Betapa, menjadi ibu yang sebenarnya benar-benar membutuhkan ilmu, kesabaran, pengalaman, dan pembelajaran yang tiada habisnya.
Bolak-balik Kaliwungu-Dawuhan dengan frekuensi yang lebih dari biasanya membuka pikiranku bagaimana caranya bisa mendapatkan penghasilan minimal empat puluh ribu rupiah sehari. Pemikiran semacam itu, menurutku sangat luar biasa. Sebelum ini, aku tidak pernah terpikir untuk menekuni dunia perbisnisan. Ternyata, setelah aku tekadkan, dan aku tekuni, sangat mengasyikkan. Membuat jajanan anak-anak, yang mudah-mudahan tetap enak, sehat, dengan harga anak sekolahan. Lima ratus rupiah. Apa saja. Agar-agar. Kacang bawang. Hunkue. Nutrijell. Donat. Bolu kukus. Dan aku akan terus bereksperimen mengembangkan jenis jajanan yang lainnya lagi. Betapa sangat membahagiakan ketika dalam sehari ada pemasukan meski hanya lima ratus rupiah. Dan dua hari kemarin, aku berhasil memikat hati pembeli. Terbukti, agar-agar santan dan nutrijel yang aku buat, selalu habis di pasaran. Alhamdulillah. Hari ini maunya menitipkan bolu kukus, ternyata malah bolunya bantat. Hehehe..
Intinya, aku bahagia dengan keadaan yang sekarang. Meski lebih capai, tapi ritme hidup yang serasa baru, membuatku selalu bersemangat menjalani hari demi hari. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Itu sungguh benar adanya.
Aku juga tidak sebawel dulu terhadap mamas. Aku tidak terlalu sering mengeluh dan menuntut ini dan itu. Setidaknya, menurut perasaanku. Hehe. Pokoknya, dengan adanya kegiatan baru membuat jajanan anak-anak, hari-hariku menjadi lebih indah rasanya. Alhamdulillah....
Terimakasih Ya Allah. Perubahan positif ini tak lepas atas bimbingan-Mu. Alhamdulillah...
Jumat, 25 September 2015
Refleksi PLPG
Aku sangat bersyukur dipertemukan dengan kegiatan PLPG ini.
Wawasanku tercerahkan. Informasiku bertambah. Dan satu hal. Bahwa untuk
mengaktualisasikan diri, kita perlu ruang dan suasana baru yang bebas dari
penilaian subjektif sebelumnya. Setidaknya itu yang aku rasakan dalam PLPG
kemarin.
Aku merasa, bisa total mewujudkan diriku yang sebenarnya.
Inilah aku. Tanpa perlu merasa malu atau takut. Bila ada kesalahan, sungguh itu
adalah hal yang sangat manusiawi. Bila ada kelebihan, itu tak lepas karena
karunia Allah semata. Alhamdulillah, sekali lagi, ucap syukurku yang tak
terhingga hanya kepada Allah SWT.
PLPG telah berakhir. Tapi bukan berarti, semangat berkreasi
telah pula padam. Justru, ini adalah awal dan babak baru pembuktian. Perwujudan.
Berhasilkah dalam sepuluh hari kemarin? Ataukah kegagalan dan kembali pada
hal-hal tidak bermutu yang akan aku jalani?
Tentu saja, aku memilih untuk membuktikan bahwa PLPG sepuluh
hari kemarin, membuahkan hasil. Aku akan terus berkreasi. Meneruskan semangat
dan kreatifitas mendidik putra-putri bangsa. Membangun jiwa. Membangun negeri.
Bismillaah. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.......
Selasa, 15 September 2015
AZZAHROTU LABIBAH (1)




Kenalkan.
Azzahrotu Labibah namanya. Usianya baru 3 bulan lebih beberapa hari. Tepatnya, bidadari saya ini lahir tanggal 30 Desember 2009 yang lalu.
Putriku adalah sosok yang luar biasa. Hebat! Tangguh!
Bagaimana tidak saya katakan hebat dan tangguh, bila perjalanan yang dilewatinya hingga usianya yang sekarang, begitu penuh liku.
Zahro; demikian saya memanggilnya. Zahro adalah buah cinta saya dengan suami (yang saya cintai dan saya yakin, dia mencintaiku juga). Dengan niat suci untuk memelihara kehormatan diri, kami menikah. Tanggal 29 Maret 2009, kami mengawali babak hidup baru. Menyandang gelar istri dan suami. Lalu ALLOH menitipkan benih cinta di rahim saya. Selama hampir 9 bulan dalam kandungan, Zahro turut merasakan bagaimana indahnya perjalanan bolak-balik Pekuncen-Baturraden-Cilacap-Kaliwungu Kedungreja. Hebat, putriku!
Zahro diperkirakan akan lahir tanggal 20 Januari 2010 kemarin. Tapi ternyata maju 21 hari dari yang diperkirakan. Tetap terasa detik demi detik saat itu. Saat Zahroku berjuang keras mencari jalan untuk menyapa dunia. Dan saat tangis pertamanya memecah sunyi jam 01.30 dinihari, saat itu juga, hilang sirna segala yang terasa berat dan melelahkan sebelumnya. Betapa mengharukan dan membahagiakan!
Lalu, hari-hari indah kami lalui. Bila engkau seorang ibu, pasti akan sangat paham, keindahan yang seperti apakah yang saya maksudkan.
Tengah malam harus terjaga, menyusui, menimang, meninabobokan, mengganti popoknya, menceritakan banyak hal padanya...
Ya, itu adalah hal yang sangat indah untuk dirasakan. (to be continued)
KANGEEEEEEEEEN
Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarokaatuh
Wah, lama sekali ga posting tulisan di mimpisyurga, rasanya kangen banget. Kangen ingin berbagi dengan sidang pembaca semuanya.
Bagaimana kabarnya, sidang pembaca semua? Semoga baik-baik saja. Syukur Alhamdulillah.
Beberapa minggu berlalu sudah, kini kita memasuki bulan baru. Dengan semangat baru, dengan rencana baru, harapan baru. Apa yang sudah berlalu, semestinya menjadi pelajaran berharga untuk lebih baiknya waktu-waktu yang akan datang.
Subhanallah…
Setengah tahun sudah di tahun 2008 ini. Apa yang sudah saya dapatkan? Banyak. Banyak sekali yang sudah saya dapatkan. Hanya saja, tidak semua yang saya dapatkan itu, saya cermati dan saya resapi. Sehingga, terkadang, ada kesalahan-kesalahan yang mestinya diperbaiki, luput dari perhatian. Sehingga lain waktu, terpaksa harus terulang. Ada kejutan-kejutan kecil mestinya layak disyukuri, berlalu tanpa kesan. Masih untung, jika ingat dan kemudian bersyukur, meski (mungkin) sudah terlambat.
Setengah tahun sangatlah lama. Ah, apalah lagi setengah tahun. Bahkan sedetik yang telah berlalu pun, tak akan mungkin lagi bisa digenggam. So? Seharusnya, dengan kesadaran ini, saya menjadi orang yang sangat berhati-hati dengan waktu. Tapi kok ya… sulit sekali, yah?
Di akhir tahun 2007 yang lalu, saya sempat merumuskan rencana-rencana. Dan ternyata, sangat sulit mewujudkan rencana-rencana itu tanpa berani bekerja keras. Yang ada, waktu demi waktu berlalu sia-sia. Astaghfirullah…
Apa lagi, yah? Kok bingung sih, ngobrol sendirian seperti ini. J
Oh ya, saya mendapatkan sesuatu yang biasa, tapi menjadi luar biasa saat ditelaah dengan lebih cermat.
Apa itu? Alam. Ada apa dengan alam? Ternyata, alam terkembang, benar-benar, harus dijadikan sebagai guru. Teringat dengan salah satu kalimat dalam salah satu edisi majalah Annida, alam terkembang, jadikanlah ia guru, sayang.
Ya, alam benar-benar menjadi guru. Gemericik airnya, hembus lembut anginnya, terjal tebing-tebingnya, hamparan rerumputan, pohon-pohon, jalan-jalan….
Semuanya. Cobalah luangkan waktu barang satu dua menit untuk menyaksikan sekeliling kita, dan lihatlah, ternyata, mereka mengajarkan bagaimana caranya kita menjalani hidup ini dengan baik. Serasi dan penuh harmoni. Sungguh, indah sekali!
Inti dari tulisan ini: pandai-pandailah memanfaatkan waktu untuk berguru kepada alam
OK, akhirnya selamat membaca. Semoga mendapatkan manfaat. Aamiin
Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Label:
kangen,
kembali menyapa
Inspirasi di PLPG (2)
Bila sejarah masa lalu membuatmu sakit pada hari ini, jangan ulangi sejarah itu. Begitulah kenyataan yang harus aku hadapi hari ini. Kabupaten Cilacap menjadi buah bibir hari ini. Bukan karena prestasinya yang membanggakan pada masa PLPG saat itu, namun karena kelakuan salah satu oknum guru yang tidak senonoh. Telah menodai nama baik dirinya sendiri, nama baik korps, nama baik institusi, nama baik kabupaten, nama baik profesi. Astagfirulloohal'adziim.
Masa lalu yang kelam, biarlah berlalu. Cerita saat itu, biar menjadi noda yang mewarnai perjalanan. Namun, warna hitam itu jangan dibiarkan melebar dan membesar. STOP! Bila noda itu hanya setitik, cukup setitik saja. Bahkan, kalau bisa dihapus, hapuslah. Meskipun cerita tidak bagus itu akan terus dikenang semua orang yang pernah mendengarnya, namun bila ada hal baik setelahnya, mudah-mudahan itu akan menjadi penetral atas cerita itu. Kalau perlu, bisa mengaburkan dan menghapuskan cerita kelam sebelumnya.
Sungguh, aib itu membuatku benar-benar sangat malu. Bahwa aku wanita, sebagai istri, guru, ibu. Aku kehilangan muka di depan teman-teman satu provinsi. Aku merasa, setiap aku berjalan, semua memandangku. Menghakimiku. Seolah mereka mengatakan, "Wah, Cilacap dengan aksi tidak senonohnya". Astagfirulloohal'adziim.
Namun kemudian, lagi-lagi aku mendapatkan penguatan dan semangat dari kamar 202. Bahwa peristiwa yang lalu, biarlah berlalu. Bila cerita kelam itu membuatku sakit hati, malu dan terluka, maka saat ini, aku harus bisa menunjukkan bahwa itu hanya tindakan oknum semata. Aku tidak bertanggungjawab atas apa yang telah dia lakukan. Aku hanya bertanggungjawab atas perbuatanku sendiri. Maka, aku akan berusaha melakukan yang terbaik semampu yang bisa aku lakukan. Aku tahu dan aku sadar, bahwa keberadaanku disini, bukan membawa diriku semata. Banyak pihak yang bersinggungan dengan keberadaanku. Keluarga, sekolah, kecamatan dimana aku bekerja, kabupaten tempatku dilahirkan, korps pegawai dimana aku bernaung... Maka, aku akan bekerja keras, aku akan belajar, agar keberadaanku membawa manfaat. Bagi diriku dan bagi semua pihak yang bersinggungan dengan keberadaanku.
Hari ini, aku merasa ditampar oleh kenyataan pahit. Hari ini juga, aku beritikad akan selalu berusaha belajar untuk menjadi lebih baik. Bismillaahirrohmaanirrohiim
Masa lalu yang kelam, biarlah berlalu. Cerita saat itu, biar menjadi noda yang mewarnai perjalanan. Namun, warna hitam itu jangan dibiarkan melebar dan membesar. STOP! Bila noda itu hanya setitik, cukup setitik saja. Bahkan, kalau bisa dihapus, hapuslah. Meskipun cerita tidak bagus itu akan terus dikenang semua orang yang pernah mendengarnya, namun bila ada hal baik setelahnya, mudah-mudahan itu akan menjadi penetral atas cerita itu. Kalau perlu, bisa mengaburkan dan menghapuskan cerita kelam sebelumnya.
Sungguh, aib itu membuatku benar-benar sangat malu. Bahwa aku wanita, sebagai istri, guru, ibu. Aku kehilangan muka di depan teman-teman satu provinsi. Aku merasa, setiap aku berjalan, semua memandangku. Menghakimiku. Seolah mereka mengatakan, "Wah, Cilacap dengan aksi tidak senonohnya". Astagfirulloohal'adziim.
Namun kemudian, lagi-lagi aku mendapatkan penguatan dan semangat dari kamar 202. Bahwa peristiwa yang lalu, biarlah berlalu. Bila cerita kelam itu membuatku sakit hati, malu dan terluka, maka saat ini, aku harus bisa menunjukkan bahwa itu hanya tindakan oknum semata. Aku tidak bertanggungjawab atas apa yang telah dia lakukan. Aku hanya bertanggungjawab atas perbuatanku sendiri. Maka, aku akan berusaha melakukan yang terbaik semampu yang bisa aku lakukan. Aku tahu dan aku sadar, bahwa keberadaanku disini, bukan membawa diriku semata. Banyak pihak yang bersinggungan dengan keberadaanku. Keluarga, sekolah, kecamatan dimana aku bekerja, kabupaten tempatku dilahirkan, korps pegawai dimana aku bernaung... Maka, aku akan bekerja keras, aku akan belajar, agar keberadaanku membawa manfaat. Bagi diriku dan bagi semua pihak yang bersinggungan dengan keberadaanku.
Hari ini, aku merasa ditampar oleh kenyataan pahit. Hari ini juga, aku beritikad akan selalu berusaha belajar untuk menjadi lebih baik. Bismillaahirrohmaanirrohiim
Senin, 14 September 2015
Inspirasi di PLPG
Alhamdulillaahilladzii ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur
Demikian besar rasa syukurku atas karunia yang Allah berikan padaku. Aku sedang menjalani tahap baru dalam kehidupanku. Mengikuti Pendidikan Latihan Profesi Guru dengan harapan Pergi Langsing (dari pengalaman) Pulang Gemuk (dengan pengalaman baru) di Hotel Olimpic Semarang sekarang. Kegiatan dibuka kemarin, Senin 14 September 2015 dan direncanakan akan selesai pada hari Rabu, 23 September 2015 besok.
Aku yakin, pasti Allah telah menyiapkan hikmah yang sangat besar atas kegiatan yang diberikan untukku sekarang. Aku dipertemukan dengan orang-orang hebat. Orang-orang yang memandang dunia ini tidak sekedar sebagai materi yang harus dicari dan diperjuangkan. Tapi orang-orang yang memandang dunia ini hanya sebagai sarana untuk mendapatkan nilai yang lebih baik di hari kemudian kelak. Subhanalloh...
Orang-orang ini menginspirasiku untuk menulis di blog.ku sekarang. Mereka, Ibu Bety dan Ibu Malihatun, dua diantara sekian banyak Guru Pendidikan Agama Islam dari Kabupaten Tegal. Subhanalloh. Wal hamdulillah. Wa laa ilaaha illallooh. Alloohu akbar.
Ibu Bety. Istri polisi. Dua orang putra. Memandang bahwa anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Maka tidak selayaknya ketika menyerahkan pengasuhan anak begitu saja kepada orang lain. Pernah menjalani hidup rumah tangga seperti yang kujalani sekarang. Long Distance Relationship. Hidup prihatin dengan gaji yang harus dikelola sedemikian rupa. Sampai akhirnya, sekarang sudah punya rumah sendiri. Bisa berkumpul kembali dengan keluarga. Berkumpul dengan suami dan anak-anak tercinta. Melibatkan orang tua dalam hal pengasuhan anak ditempuh ketika harus pergi bekerja. Ibu Bety, dengan pengalaman hidup yang menempanya sekarang berpikir, bahwa putra-putranya kelak, diharapkan bisa memperistrikan perempuan yang "di rumah saja tapi tetap eksis". Bisa tetap mengurus keluarga dan anak-anak dengan baik, tapi kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi. Subhanalloh! Menurutku, ini pemikiran yang luar biasa. Di tengah kehidupan yang serba materi, serba kerja untuk mengejar dunia, masih ada yang bisa berpikir bahwa pengasuhan dan pendidikan anak adalah yang pertama dan utama. Dan, sungguh, jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku setuju dengan pemikirannya ini, meskipun sampai saat ini Allah belum mempertemukanku pada kesempatan dimana aku bisa menikmati bertemu dengan keluarga setiap hari. Tapi aku tetap yakin, pasti ada saatnya kelak aku bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Bertemu suami dan anak-anak setiap hari, merenda masa dengan dunia yang lebih baik untuk kesuksesan hari akhir kelak. Bismillaah... Laa haula wa laa quwwata illaa billaah....
Ibu Malihatun. Istri guru kelas. Empat orang putra. Tidak sibuk bercerita berapa hektare sawah yang dimilikinya. Atau, seberapa megah rumahnya. Atau, seberapa besar gajinya yang tersisa. Tapi cerita yang keluar dari mulutnya adalah rasa syukur karena dikarunia putra yang solih. Putra yang begitu perhatian pada bundanya, memperhatikan perasaan bundanya, mengamalkan amalan yang juga diamalkan bundanya. Membaca Al-Qur'an, salat malam. Mencari ketenangan hati dengan mendekatkan diri kepada Allah. Sederhana, tapi serius dalam memperjuangkan kepentingan akhiratnya. Aku, yang untuk bertadarus dan salat malam, sudah diberi waktu yang demikian leluasa oleh Allah, terkadang tertatih-tatih melakoninya. Beliau, di tengah kesibukannya mengurus keluarga, suami, anak, masih menyempatkan diri untuk bertadarrus setiap habis salat, dan menjalankan salat malam. Demikian yang aku saksikan disini, sejak kemarin menjadi room mate.nya sampai dengan dinihari ini. Subhanalloh! Sungguh, ini pembelajaran yang sangat efektif untuk membangkitkan kembali semangatku dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Terimakasih ya Allah. Aku bersyukur kepada-Mu atas semuanya ini.
Ibu Bety. Ibu Malihatun. Mereka, dua wanita hebat yang Allah kirimkan padaku saat ini. Teman sekamar dalam kegiatan PLPG ini. Aku akan belajar banyak dari mereka. Bismillaah.....
Demikian besar rasa syukurku atas karunia yang Allah berikan padaku. Aku sedang menjalani tahap baru dalam kehidupanku. Mengikuti Pendidikan Latihan Profesi Guru dengan harapan Pergi Langsing (dari pengalaman) Pulang Gemuk (dengan pengalaman baru) di Hotel Olimpic Semarang sekarang. Kegiatan dibuka kemarin, Senin 14 September 2015 dan direncanakan akan selesai pada hari Rabu, 23 September 2015 besok.
Aku yakin, pasti Allah telah menyiapkan hikmah yang sangat besar atas kegiatan yang diberikan untukku sekarang. Aku dipertemukan dengan orang-orang hebat. Orang-orang yang memandang dunia ini tidak sekedar sebagai materi yang harus dicari dan diperjuangkan. Tapi orang-orang yang memandang dunia ini hanya sebagai sarana untuk mendapatkan nilai yang lebih baik di hari kemudian kelak. Subhanalloh...
Orang-orang ini menginspirasiku untuk menulis di blog.ku sekarang. Mereka, Ibu Bety dan Ibu Malihatun, dua diantara sekian banyak Guru Pendidikan Agama Islam dari Kabupaten Tegal. Subhanalloh. Wal hamdulillah. Wa laa ilaaha illallooh. Alloohu akbar.
Ibu Bety. Istri polisi. Dua orang putra. Memandang bahwa anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Maka tidak selayaknya ketika menyerahkan pengasuhan anak begitu saja kepada orang lain. Pernah menjalani hidup rumah tangga seperti yang kujalani sekarang. Long Distance Relationship. Hidup prihatin dengan gaji yang harus dikelola sedemikian rupa. Sampai akhirnya, sekarang sudah punya rumah sendiri. Bisa berkumpul kembali dengan keluarga. Berkumpul dengan suami dan anak-anak tercinta. Melibatkan orang tua dalam hal pengasuhan anak ditempuh ketika harus pergi bekerja. Ibu Bety, dengan pengalaman hidup yang menempanya sekarang berpikir, bahwa putra-putranya kelak, diharapkan bisa memperistrikan perempuan yang "di rumah saja tapi tetap eksis". Bisa tetap mengurus keluarga dan anak-anak dengan baik, tapi kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi. Subhanalloh! Menurutku, ini pemikiran yang luar biasa. Di tengah kehidupan yang serba materi, serba kerja untuk mengejar dunia, masih ada yang bisa berpikir bahwa pengasuhan dan pendidikan anak adalah yang pertama dan utama. Dan, sungguh, jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku setuju dengan pemikirannya ini, meskipun sampai saat ini Allah belum mempertemukanku pada kesempatan dimana aku bisa menikmati bertemu dengan keluarga setiap hari. Tapi aku tetap yakin, pasti ada saatnya kelak aku bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Bertemu suami dan anak-anak setiap hari, merenda masa dengan dunia yang lebih baik untuk kesuksesan hari akhir kelak. Bismillaah... Laa haula wa laa quwwata illaa billaah....
Ibu Malihatun. Istri guru kelas. Empat orang putra. Tidak sibuk bercerita berapa hektare sawah yang dimilikinya. Atau, seberapa megah rumahnya. Atau, seberapa besar gajinya yang tersisa. Tapi cerita yang keluar dari mulutnya adalah rasa syukur karena dikarunia putra yang solih. Putra yang begitu perhatian pada bundanya, memperhatikan perasaan bundanya, mengamalkan amalan yang juga diamalkan bundanya. Membaca Al-Qur'an, salat malam. Mencari ketenangan hati dengan mendekatkan diri kepada Allah. Sederhana, tapi serius dalam memperjuangkan kepentingan akhiratnya. Aku, yang untuk bertadarus dan salat malam, sudah diberi waktu yang demikian leluasa oleh Allah, terkadang tertatih-tatih melakoninya. Beliau, di tengah kesibukannya mengurus keluarga, suami, anak, masih menyempatkan diri untuk bertadarrus setiap habis salat, dan menjalankan salat malam. Demikian yang aku saksikan disini, sejak kemarin menjadi room mate.nya sampai dengan dinihari ini. Subhanalloh! Sungguh, ini pembelajaran yang sangat efektif untuk membangkitkan kembali semangatku dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Terimakasih ya Allah. Aku bersyukur kepada-Mu atas semuanya ini.
Ibu Bety. Ibu Malihatun. Mereka, dua wanita hebat yang Allah kirimkan padaku saat ini. Teman sekamar dalam kegiatan PLPG ini. Aku akan belajar banyak dari mereka. Bismillaah.....
Label:
bersyukur,
introspeksi
Selasa, 07 Oktober 2014
KEMBALI MENULIS
Alhamdulillah...
Bisa kembali menulis di sini. Setiap diminta mengisi curriculum vitae, membaca dan menulis selalu saya cantumkan sebagai hobi. Namun, ternyata tak mudah mempertanggungjawabkannya. Selalu, saja. Ada hal-hal yang dijadikan sebagai alasan untuk tidak menekuni kedua hobi tersebut.
Padahal, hanya dengan giat membaca dan menulis saja, akal pikiran akan senantiasa tercerahkan.
Dan sekarang, saya kembali menulis.
Tanggal 19 Juni 2014 yang lalu, saya melewati fase baru dalam kehidupan. Kembali menjadi seorang ibu. Subhanalloh! Sungguh membahagiakan, mendebarkan, penuh kejutan. Dan saya sangat menikmatinya. Ditambah dengan sikap suami yang jauh lebih dewasa dibanding pada saat saya baru menjadi ibu.
Juga, ada perkembangan sedikit dalam hal pola asuh. Perkembangan yang saya maksudkan, ketika sekarang saya harus kembali menunaikan tugas negara, saya berusaha agar tetap bisa memberikan ASI. Meskipun tidak setiap hari. Minimal, setiap pulang, ASI bisa tetap diberikan pada putri kedua. Ya. Jauh di tempat tugas ini, ASI saya perah setiap hari. Saya berikan pada makhluk Allah yang lain. Tumbuhan, hewan, serangga.... Tujuannya, agar ASI tetap berproduksi, sehingga ketika pulang, putri kecilku bisa tetap menikmati ASI bundanya ini. Meskipun tidak menetek langsung, namun ada kebahagiaan tersendiri manakala ASI yang telah diperah, masuk botol, dihisap tandas oleh putri kecilku. Sekarang, usinya sudah 112 (seratus dua belas) hari. Sudah bisa tengkurap. Saya sangat bersyukur. Ini hal baru dalam hidupku, karena pada saat usia putri pertamaku baru akan memasuki 4 bulan, dia sudah tidak bisa menikmati ASI lagi. Sungguh, semua semata-mata karena karunia Allah SWT.
Putri pertamaku, usianya kurang lebih sudah 4 tahun 9 bulan 8 hari. Sangat ngemong pada sang adik. Ngajinya pinter. Sekarang sudah Iqra jilid 5. Sungguh, ini adalah karunia Allah yang tak terkira. Saya sangat bersyukur.
Suamiku juga sangat mendukung karier yang sedang saya jalani. Begitu pun. Saya juga sangat mendukung apa yang suamiku tekuni. Mudah-mudahan, saling support ini menjadi amal ibadah bagi kami dalam mengayuh dan mengarungi biduk rumah tangga.
Sungguh tak mudah. Melewati masa-masa awal adaptasi, harus terpisah, banyak godaan silih berganti. Semoga Allah senantiasa meneguhkan langkah kami. Aamiin
Bisa kembali menulis di sini. Setiap diminta mengisi curriculum vitae, membaca dan menulis selalu saya cantumkan sebagai hobi. Namun, ternyata tak mudah mempertanggungjawabkannya. Selalu, saja. Ada hal-hal yang dijadikan sebagai alasan untuk tidak menekuni kedua hobi tersebut.
Padahal, hanya dengan giat membaca dan menulis saja, akal pikiran akan senantiasa tercerahkan.
Dan sekarang, saya kembali menulis.
Tanggal 19 Juni 2014 yang lalu, saya melewati fase baru dalam kehidupan. Kembali menjadi seorang ibu. Subhanalloh! Sungguh membahagiakan, mendebarkan, penuh kejutan. Dan saya sangat menikmatinya. Ditambah dengan sikap suami yang jauh lebih dewasa dibanding pada saat saya baru menjadi ibu.
Juga, ada perkembangan sedikit dalam hal pola asuh. Perkembangan yang saya maksudkan, ketika sekarang saya harus kembali menunaikan tugas negara, saya berusaha agar tetap bisa memberikan ASI. Meskipun tidak setiap hari. Minimal, setiap pulang, ASI bisa tetap diberikan pada putri kedua. Ya. Jauh di tempat tugas ini, ASI saya perah setiap hari. Saya berikan pada makhluk Allah yang lain. Tumbuhan, hewan, serangga.... Tujuannya, agar ASI tetap berproduksi, sehingga ketika pulang, putri kecilku bisa tetap menikmati ASI bundanya ini. Meskipun tidak menetek langsung, namun ada kebahagiaan tersendiri manakala ASI yang telah diperah, masuk botol, dihisap tandas oleh putri kecilku. Sekarang, usinya sudah 112 (seratus dua belas) hari. Sudah bisa tengkurap. Saya sangat bersyukur. Ini hal baru dalam hidupku, karena pada saat usia putri pertamaku baru akan memasuki 4 bulan, dia sudah tidak bisa menikmati ASI lagi. Sungguh, semua semata-mata karena karunia Allah SWT.
Putri pertamaku, usianya kurang lebih sudah 4 tahun 9 bulan 8 hari. Sangat ngemong pada sang adik. Ngajinya pinter. Sekarang sudah Iqra jilid 5. Sungguh, ini adalah karunia Allah yang tak terkira. Saya sangat bersyukur.
Suamiku juga sangat mendukung karier yang sedang saya jalani. Begitu pun. Saya juga sangat mendukung apa yang suamiku tekuni. Mudah-mudahan, saling support ini menjadi amal ibadah bagi kami dalam mengayuh dan mengarungi biduk rumah tangga.
Sungguh tak mudah. Melewati masa-masa awal adaptasi, harus terpisah, banyak godaan silih berganti. Semoga Allah senantiasa meneguhkan langkah kami. Aamiin
Label:
bersyukur,
kembali menyapa
Sabtu, 09 Februari 2013
Alhamdulillah....
Alhamdulillah.... Purna sudah sebuah agenda yang membuatku sampai tak tidur semalaman. Mungkin, bagi orang yang berpemikiran ideal, adanya kegiatan yang sangat meriah bagiku ini, belum apa-apanya. Tak apa. Setiap orang boleh menilai. Boleh merasakan. Akan dari sudut mana orang menilai, itu juga masing-masing pribadi mempunyai kriteria sendiri.
Bagiku, ini sungguh sudah sangat luar biasa. Hanya jujur, memang ada beberapa catatan, dan itu semua ada pada diriku sendiri. Saya, sangat mengakui bahwa jiwa manajerial saya tidak bagus. Saya juga tidak bisa ambil sikap tegas atas hal-hal yang membutuhkan keputusan cepat. Bahkan, menjadi terkesan plin plan.
Saya sangat menyesalkan untuk hal pembagian doorprize. Adalah hal yang sangat menggiurkan, bagiku, ketika nama disebutkan, lalu maju, mendapatkan kesempatan menjawab, benar, lalu mendapatkan hadiah. Namun tidak bagi anak-anak. Sebab, tidak semua anak berjiwa pemberani. Di sini, peran saya untuk menumbuhkan keberanian anak-anak, terbukti nihil. Bila pun ada anak yang bersedia maju, itu bukan karena berhasil ditumbuhkan keberaniannya oleh guru, tapi memang sudah dari sononya anak itu memang pemberani. Hal yang perlu dibenahi.
Ditambah, tidak ada mekanisme yang jelas sejak awal. Alhasil, ada anak yang mendapatkan soal dengan kualitas sangat mudah, ada anak yang bahkan hanya dengan maju saja, sudah mendapatkan doorprize. Dan doorprize masih tersisa sangat banyak, yang sedianya untuk yang bisa menjawab, akhirnya diberikan untuk yang membantu tugas kebersihan dan kerapian. Duh, jan. Saya selalu kalah mengantisipasi hal-hal yang seharusnya bisa diprediksi sejak awal.
Lalu, pembagian snack. Ada yang bisa dapat double, ada yang tidak kebagian, ada bahkan yang berkomentar, masa membawa kue begitu banyak, cuma dapat sedikit. Itu juga PR. Bagaimana menumbuhkan kepedulian, kejujuran, dan keikhlasan sekaligus. Itu sungguh berat, meski juga bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.
Bagaimanapun, kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw 1434 H yang digelar hari ini, tetap sebuah prestasi bagiku. Tetap layak disyukuri. Untuk terus dijadikan sebagai bahan pembelajaran hidup. Agar saya bertambah dewasa. Agar saya semakin tanggap. Dan hal-hal yang dianggap kecil dan mengganggu, bisa diantisipasi sejak awal. Tetap semangat! Tetap tersenyum!
Kesendirian bukanlah penghalang bagiku untuk berkarya. Teruslah berkarya. Semaksimal yang kamu bisa. Bila pun itu dinilai gagal oleh yang lain (dan hanya kau sendiri yang menganggapnya sukses), itu tetap sesuatu banget. Sebab, tak semua orang berkesempatan melakukan hal yang telah kau lakukan.
Akhirnya, alhamdulillah.... Thanks God, atas kekuatan yang Kau titipkan padaku untuk terlaksananya kegiatan ini (selalu haru dan ingin menangis rasanya).
Salam
Bagiku, ini sungguh sudah sangat luar biasa. Hanya jujur, memang ada beberapa catatan, dan itu semua ada pada diriku sendiri. Saya, sangat mengakui bahwa jiwa manajerial saya tidak bagus. Saya juga tidak bisa ambil sikap tegas atas hal-hal yang membutuhkan keputusan cepat. Bahkan, menjadi terkesan plin plan.
Saya sangat menyesalkan untuk hal pembagian doorprize. Adalah hal yang sangat menggiurkan, bagiku, ketika nama disebutkan, lalu maju, mendapatkan kesempatan menjawab, benar, lalu mendapatkan hadiah. Namun tidak bagi anak-anak. Sebab, tidak semua anak berjiwa pemberani. Di sini, peran saya untuk menumbuhkan keberanian anak-anak, terbukti nihil. Bila pun ada anak yang bersedia maju, itu bukan karena berhasil ditumbuhkan keberaniannya oleh guru, tapi memang sudah dari sononya anak itu memang pemberani. Hal yang perlu dibenahi.
Ditambah, tidak ada mekanisme yang jelas sejak awal. Alhasil, ada anak yang mendapatkan soal dengan kualitas sangat mudah, ada anak yang bahkan hanya dengan maju saja, sudah mendapatkan doorprize. Dan doorprize masih tersisa sangat banyak, yang sedianya untuk yang bisa menjawab, akhirnya diberikan untuk yang membantu tugas kebersihan dan kerapian. Duh, jan. Saya selalu kalah mengantisipasi hal-hal yang seharusnya bisa diprediksi sejak awal.
Lalu, pembagian snack. Ada yang bisa dapat double, ada yang tidak kebagian, ada bahkan yang berkomentar, masa membawa kue begitu banyak, cuma dapat sedikit. Itu juga PR. Bagaimana menumbuhkan kepedulian, kejujuran, dan keikhlasan sekaligus. Itu sungguh berat, meski juga bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.
Bagaimanapun, kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw 1434 H yang digelar hari ini, tetap sebuah prestasi bagiku. Tetap layak disyukuri. Untuk terus dijadikan sebagai bahan pembelajaran hidup. Agar saya bertambah dewasa. Agar saya semakin tanggap. Dan hal-hal yang dianggap kecil dan mengganggu, bisa diantisipasi sejak awal. Tetap semangat! Tetap tersenyum!
Kesendirian bukanlah penghalang bagiku untuk berkarya. Teruslah berkarya. Semaksimal yang kamu bisa. Bila pun itu dinilai gagal oleh yang lain (dan hanya kau sendiri yang menganggapnya sukses), itu tetap sesuatu banget. Sebab, tak semua orang berkesempatan melakukan hal yang telah kau lakukan.
Akhirnya, alhamdulillah.... Thanks God, atas kekuatan yang Kau titipkan padaku untuk terlaksananya kegiatan ini (selalu haru dan ingin menangis rasanya).
Salam
Kamis, 07 Februari 2013
MENULISLAH....
Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw berisi pesan bagi kita untuk membaca. Membaca apapun. Makna yang tersirat, bila ada perintah untuk membaca, pastilah ada yang dibaca. Bila ada yang dibaca, maka pasti ada yang membuat "sesuatu yang bisa dibaca tersebut"
Alloh swt menggelar alam raya ini sebagai bentuk "tulisan-Nya". Tulisan yang harus kita baca, kita telaah, kita fikirkan, kita renungkan. Meneladani ke-Maha Karya-an Sang Illahi, maka membuat sesuatu yang bisa dibaca pasti juga hal yang sangat bernilai penting. Bila boleh saya menamakan, sesuatu yang bisa dibaca itu, kita namakanlah sebagai "tulisan". Akankah ada tulisan tanpa ada yang menuliskannya?
Maka, menulislah. Apapun itu, kapanpun itu, bagaimanapun itu. Teman saya yang penulis menyatakan bahwa menulis tidak harus sekaligus bagus. Menulis adalah salah satu proses agar otak kita senantiasa awet muda. Otak kita dirangsang untuk bekerja. Dan terlebih, dengan menulis, maka keberadaan kita akan terus ada. Bila tak percaya, kau bisa mencobanya.
Ayo, terus menulis. Agar orang lain tahu apa yang kita pikirkan. Agar otak kita tidak "jundel". Agar daya analisis kita terasah. Agar bisa memberikan manfaat lebih banyak untuk orang lain. Agar, keberadaan kita tetap ada, meskipun kita telah tiada. Selamat berkarya!
"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia"
Alloh swt menggelar alam raya ini sebagai bentuk "tulisan-Nya". Tulisan yang harus kita baca, kita telaah, kita fikirkan, kita renungkan. Meneladani ke-Maha Karya-an Sang Illahi, maka membuat sesuatu yang bisa dibaca pasti juga hal yang sangat bernilai penting. Bila boleh saya menamakan, sesuatu yang bisa dibaca itu, kita namakanlah sebagai "tulisan". Akankah ada tulisan tanpa ada yang menuliskannya?
Maka, menulislah. Apapun itu, kapanpun itu, bagaimanapun itu. Teman saya yang penulis menyatakan bahwa menulis tidak harus sekaligus bagus. Menulis adalah salah satu proses agar otak kita senantiasa awet muda. Otak kita dirangsang untuk bekerja. Dan terlebih, dengan menulis, maka keberadaan kita akan terus ada. Bila tak percaya, kau bisa mencobanya.
Ayo, terus menulis. Agar orang lain tahu apa yang kita pikirkan. Agar otak kita tidak "jundel". Agar daya analisis kita terasah. Agar bisa memberikan manfaat lebih banyak untuk orang lain. Agar, keberadaan kita tetap ada, meskipun kita telah tiada. Selamat berkarya!
"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia"
BUKAN MENGELUH, HANYA SHARING...
Ada yang semakin berbeda pada organ tubuhku. Bila tubuhku kelelahan, organ tersebut memberikan sinyal yang membuatku berpikir bahwa hidupku tak akan lama lagi. Saya sadar, saya sakit. Saya tahu, saya punya penyakit. Adalah hal yang wajar bila kemudian saya berusaha mengatasi sakit dan penyakit itu sejak sekarang. Mungkin, salah, ketika saya tidak segera memeriksakan kondisi ini kepada yang lebih berkompeten mengatasinya. Mungkin salah, bila saya langsung mengambil jalan pengobatan alternatif dalam mengatasi sakit ini. Tapi namanya usaha, mudah-mudahan berhasil. Aamin.
Pengalaman operasi pengangkatan tumor payudara tahun 2008 lalu, membuatku memilih jalan pengobatan herbal saat rasa sakit itu kembali terasa. Senit-senit. Sesekali. Tapi bisa bertambah intensitas sakitnya bila kondisi tubuh sedang lelah. Barangkali, saya bisa abaikan rasa lelah itu. Tapi, rasa sakit tak bisa kompromi.
Tadi rapat guru SD-SMP Satap. Ada kalimat menarik yang saya garisbawahi dari uraian yang disampaikan oleh Bapak Kepala Sekolah yang baru (Bapak Sutar). Intinya, jadi orang itu "mbokyao" tahu diri. Tahu diri di sini berarti, janganlah menuntut mutu yang baik ketika belum melakukan kerja keras yang maksimal, yang memadai untuk tercapainya mutu yang baik tersebut.
Bila dihubungkan dengan penyakit yang sedang saya derita ini, maka saya juga harus tahu diri. Menyadari bahwa tubuh saya bukanlah mesin. Dan memberinya waktu untuk beristirahat. Bukankah, katanya, saat beristirahat itu, sel-sel tubuh yang rusak akan diperbaiki? Nah...
Teruslah berusaha. Saya yakin, Alloh akan memberikanku pertolongan. Mengijinkanku merasakan umur panjang. Memberikanku kekuatan untuk dapat lebih bermanfaat bagi umat dan sesama. Aamiin
Pengalaman operasi pengangkatan tumor payudara tahun 2008 lalu, membuatku memilih jalan pengobatan herbal saat rasa sakit itu kembali terasa. Senit-senit. Sesekali. Tapi bisa bertambah intensitas sakitnya bila kondisi tubuh sedang lelah. Barangkali, saya bisa abaikan rasa lelah itu. Tapi, rasa sakit tak bisa kompromi.
Tadi rapat guru SD-SMP Satap. Ada kalimat menarik yang saya garisbawahi dari uraian yang disampaikan oleh Bapak Kepala Sekolah yang baru (Bapak Sutar). Intinya, jadi orang itu "mbokyao" tahu diri. Tahu diri di sini berarti, janganlah menuntut mutu yang baik ketika belum melakukan kerja keras yang maksimal, yang memadai untuk tercapainya mutu yang baik tersebut.
Bila dihubungkan dengan penyakit yang sedang saya derita ini, maka saya juga harus tahu diri. Menyadari bahwa tubuh saya bukanlah mesin. Dan memberinya waktu untuk beristirahat. Bukankah, katanya, saat beristirahat itu, sel-sel tubuh yang rusak akan diperbaiki? Nah...
Teruslah berusaha. Saya yakin, Alloh akan memberikanku pertolongan. Mengijinkanku merasakan umur panjang. Memberikanku kekuatan untuk dapat lebih bermanfaat bagi umat dan sesama. Aamiin
Label:
curhat,
introspeksi
Senin, 04 Februari 2013
Itikad di awal tahun
Beberapa waktu yang lalu, ketika ada yang menulis status (kira-kira, soale redaksi tepatnya saya lupa, akan menjadi apakah kamu 10 tahun yang akan datang?) saya memberikan tanggapan bahwa saya berharap, sepuluh tahun sejak saat ini, saya ingin:
1. Punya rumah sendiri
2. Berkumpul bersama suami dan anak dalam arti yang sesungguhnya
3. Produktif menulis
4. Tak lagi punya hutang
Aamiin
Betapa besar manfaat dari sering menggoreskan ide. Yang jelas, tulisan adalah dokumen yang sangat tahan uji. Tahan waktu, dan bisa dijadikan bahan evaluasi atas apa yang telah dilakukan. Mungkin itu sebabnya, Allah dengan sengaja menciptakan malaikat yang bertugas mencatat segala amal perbuatan manusia. Itu semua, tak lain, agar ada bukti konkrit atas apa yang telah dilakukan, dan tak ada alasan sedikitpun untuk mengelak dari semuanya.
Saya juga ingin begitu. Produktif menulis. Telah sangat lama, ide-ide tak tersalurkan semestinya. Hidup rasanya hampa. Indah sekali pasti, bila benar-benar bisa mewujudkan seluruh mimpi ini. Satu hari satu karya tulis. Satu detik, satu kebaikan. Bismillah
Jelang Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw 1434 H. Semoga suksek, semoga lancar. Aamiin...
Jumat, 15 Juni 2012
LIBURAN BERSAMA KEGIATAN
Bulan ini adalah akhir tahun pelajaran 2011/2012. Idealnya, akhir tahun akan diisi dengan hal-hal yang kiranya bisa membuat hati dan pikiran lega dan fresh, setelah satu tahun berkutat dengan pekerjaan demi pekerjaan. Kesibukan mendera tiada henti. Melelahkan jiwa dan raga. Dan alangkah senangnya, ketika tiba waktu libur panjang, jiwa raga bisa benar-benar beristirahat sejenak.
Dan, fakta berbicara lain. Akhir tahun pelajaran ini, tidak ada kesempatan beristirahat sama sekali. Tapi ini tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk bersedih. Ada sisi lain dalam kesibukan yang telah menunggu, sebuah penyegaran jiwa. Berkemah, bersiap untuk KKN, terus KKN, Ramadan-an, lebaran... Benar-benar hari-hari yang akan menguras banyak waktu, tenaga, dan biaya. Mudah-mudahan diberi kesehatan dan kekuatan untuk menjalani semua itu. Amin
Kamis, 16 Februari 2012
SEMANGAT PROFETIK
Hampir satu bulan sejak terakhir menuliskan kesan di blog ini. Suka, duka, silih berganti mewarnai hari. Apapun itu, semuanya indah. Menjadi romantika tersendiri. Ada hal-hal yang pada waktu terjadi, sangat sulit untuk diterima dengan gembira. Namun pada akhirnya, akan menjadi lelucon yang menghibur saat penat menerpa. Ada peristiwa-peristiwa konyol. Ada juga hentakan-hentakan yang menggembirakan. Semuanya, begitu indah mewarnai hari-hariku.
Tanggal 15 Februari 2012 kemarin, Kegiatan Peringatan Maulud Nabi Muhammad saw 1433 H digelar di SD Negeri Kaliwungu 03. Meriah. Sayang sekali, saya belum terampil mengupload fotonya. Jadi, untuk sementara, belum bisa dishare dengan teman-teman. Besok, 18 Februari 2012, Insya Allah juga akan digelar kegiatan Peringatan Maulud Nabi Muhammad saw di SD Negeri Kaliwungu 01. Di SD 03, acara dikemas dalam bentuk lomba-lomba. Ada lomba mewarnai untuk kelas I, II, dan III. Lalu, lomba menyusun Mading untuk kelas IV, V, dan VI.
Di SD 01, acara dikemas dalam dua bentuk. Diawali kemarin (Selasa, 14 Februari 2012) dengan diselenggarakannya lomba-lomba, lalu puncaknya (18 Februari 2012) akan digelar pengajian.
Hmm, satu pekan yang penuh nuansa kerasulan. Semoga, nuansa profetik ini akan terus membekas. Bukan hanya dalam 1 pekan ini, namun untuk esok dan seterusnya. Amin...
Tanggal 15 Februari 2012 kemarin, Kegiatan Peringatan Maulud Nabi Muhammad saw 1433 H digelar di SD Negeri Kaliwungu 03. Meriah. Sayang sekali, saya belum terampil mengupload fotonya. Jadi, untuk sementara, belum bisa dishare dengan teman-teman. Besok, 18 Februari 2012, Insya Allah juga akan digelar kegiatan Peringatan Maulud Nabi Muhammad saw di SD Negeri Kaliwungu 01. Di SD 03, acara dikemas dalam bentuk lomba-lomba. Ada lomba mewarnai untuk kelas I, II, dan III. Lalu, lomba menyusun Mading untuk kelas IV, V, dan VI.
Di SD 01, acara dikemas dalam dua bentuk. Diawali kemarin (Selasa, 14 Februari 2012) dengan diselenggarakannya lomba-lomba, lalu puncaknya (18 Februari 2012) akan digelar pengajian.
Hmm, satu pekan yang penuh nuansa kerasulan. Semoga, nuansa profetik ini akan terus membekas. Bukan hanya dalam 1 pekan ini, namun untuk esok dan seterusnya. Amin...
Label:
catatan,
introspeksi,
kenangan
Rabu, 25 Januari 2012
INDAHNYA.....
Apakah yang kau rasakan, ketika sebuah pekerjaan selesai dikerjakan?
Apakah yang kau rasakan, ketika yang dirasa sebagai beban, berhasil diselesaikan?
Apakah yang kau rasakan, ketika apa yang diangankan dan dicita-citakan, berhasil diraih?
Rasanya, dunia ini telah berada dalam genggaman.
Demikianlah yang saya rasakan, setidaknya saat ini. Masih tertulis di papan Program Kegiatan Kepala Sekolah, tanggal 3 Januari 2012, akan dilaksanakan kegiatan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) di SD Negeri Kaliwungu 03 ini. Dan, ternyata, kegiatan tersebut baru benar-benar terlaksana tanggal 24 Januari 2012 kemarin. Rasanya lega. Entah apapun nilai yang didapat nantinya, yang jelas, kegiatan berlembur-lembur yang dilakukan selama hampir 3 minggu ini, terbayar sudah. Dan sebenarnya, semua tidak selayaknya berhenti di sini. Saat lembur, kami berusaha mati-matian, mempersiapkan semuanya, agar hasil PKKS bisa maksimal. Dan alangkah sayangnya, bisa usaha dan kerja keras yang telah dilakukan kemarin-kemarin, hanya berhenti di sini. Adanya penilaian, bukanlah akhir dari semua usaha dan kerja keras untuk menjadi yang terbaik. Seperti kata Bu Suyati kemarin, penilaian, hakikatnya awal dari perjuangan selanjutnya. Dari hasil penilaian, dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya. Nah, dari sanalah, idealnya, perbaikan dan peningkatan untuk bisa terus dilaksanakan, guna peningkatan mutu manajemen, mutu administrasi, mutu sekolah dan mutu pendidikan di waktu-waktu yang akan datang. Hmm, demikianlah tentang PKKS.
Sekarang, beralih ke hal lain yang juga tak kalah indahnya. Cihui, di SD Negeri Kaliwungu 03, sekarang, dipasang internet. Hari Ahad, tanggal 22 Januari 2012 kemarin, dipasang. Targetnya, tanggal 24 Januari 2012 sudah bisa diperlihatkan kepada asesor sebagai salah satu bukti fisik dari program-program sekolah. Dan Alhamdulillah, tanggal 24 Januari 2012 kemarin, benar-benar sudah jadi. Dan saat ini, jam ini, saya sedang memulai menikmati keberadaan jaringan internet di sekolah. Wah, indah sekali. Bila merunut pada cerita teman-teman guru dan Kepala Sekolah mengenai sejarah SD Negeri Kaliwungu 03 pada waktu itu, beberapa tahun yang lalu, sungguh tak terlintas dalam benak, bahwa akan ada jaringan internet di sini. Sekolah yang hampir diregrouping, gedung yang hampir roboh, akses masuk yang sulit, mebeler yang sangat kurang, kantor yang memprihatinkan, dan lain sebagainya. Namun, Al-hamdulillah. Keajaiban selalu menyertai setiap usaha. Benar sekali apa yang telah diinformasikan oleh Allah, "Maka, sungguh, dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Sungguh, dalam kesulitan ada kemudahan". Keberadaan SD Negeri Kaliwungu 03, dari yang waktu itu semacam itu, hingga hari ini yang semacam ini, pastilah semua tak lepas dari usaha dan kerja keras segenap unsur yang terlibat di dalamnya. Dan memang, harus ada motor yang sanggup menggerakan segenap komponen yang ada, hingga lahirlah kondisi yang lebih baik, sesuai dengan yang diharapkan. Subhanalloh!
Lalu, saya juga jadi teringat saat pertama kali menginjakkan kaki di Kecamatan Kedungreja ini. Tak terbayang saat itu, bahwa akhirnya saya bisa membaur dengan anak-anak, dengan situasi dan kondisi di sini. Jujur, saya akui, saya belum bisa seutuhnya beradaptasi dengan lingkungan masyarakat di sini, meskipun sudah cukup lama bilangan waktu yang saya habiskan di sini. Terhitung, sejak bulan Juni 2009. Namun, meski demikian, saya tetap bersyukur, bahwa meskipun saya tidak bisa sepenuhnya membaur, masyarakat di sini tetap care pada saya. Memang tidak bisa sepenuhnya seperti keluarga sendiri; saya juga sering merasa bingung saat dihadapkan pada situasi yang menuntut pengambilan keputusan tindakan paling tepat pada situasi tertentu di masyarakat; namun senyum yang terkembang dari mereka saat berpapasan, keramahan mereka, menunjukkan bahwa keberadaan saya, sedikit banyak diterima. Saya ingin berbuat sesuatu di sini, terutama untuk anak-anak. Namun masih bingung, harus memulai dari mana. Hehehe..... Begitulah. Dan ternyata, Allah mempertemukan saya dengan bumi Kedungreja ini, membawa sebegitu banyak hikmah yang dapat saya jadikan bekal dalam mengarungi kehidupan ini. Terutama, yang paling saya rasakan adalah, sebuah pelajaran berharga: Bila ingin maju, jangan ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Kesalahan dan kegagalan itu biasa. Jadikan itu sebagai bahan berharga untuk memperbaiki diri, mengawali hal-hal baru lainnya yang lebih baik, tanpa harus mengulangi kesalahan dan kegagalan serupa.
Perkembangan dan peningkatan ini, tak boleh berhenti hanya sampai di sini. Mari, terus berkarya. Untuk peningkatan kinerja kita sendiri, untuk peningkatan sekolah, untuk peningkatan mutu pendidikan di tanah air secara umum.
Bravo SD Negeri Kaliwungu 03!
Apakah yang kau rasakan, ketika yang dirasa sebagai beban, berhasil diselesaikan?
Apakah yang kau rasakan, ketika apa yang diangankan dan dicita-citakan, berhasil diraih?
Rasanya, dunia ini telah berada dalam genggaman.
Demikianlah yang saya rasakan, setidaknya saat ini. Masih tertulis di papan Program Kegiatan Kepala Sekolah, tanggal 3 Januari 2012, akan dilaksanakan kegiatan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) di SD Negeri Kaliwungu 03 ini. Dan, ternyata, kegiatan tersebut baru benar-benar terlaksana tanggal 24 Januari 2012 kemarin. Rasanya lega. Entah apapun nilai yang didapat nantinya, yang jelas, kegiatan berlembur-lembur yang dilakukan selama hampir 3 minggu ini, terbayar sudah. Dan sebenarnya, semua tidak selayaknya berhenti di sini. Saat lembur, kami berusaha mati-matian, mempersiapkan semuanya, agar hasil PKKS bisa maksimal. Dan alangkah sayangnya, bisa usaha dan kerja keras yang telah dilakukan kemarin-kemarin, hanya berhenti di sini. Adanya penilaian, bukanlah akhir dari semua usaha dan kerja keras untuk menjadi yang terbaik. Seperti kata Bu Suyati kemarin, penilaian, hakikatnya awal dari perjuangan selanjutnya. Dari hasil penilaian, dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya. Nah, dari sanalah, idealnya, perbaikan dan peningkatan untuk bisa terus dilaksanakan, guna peningkatan mutu manajemen, mutu administrasi, mutu sekolah dan mutu pendidikan di waktu-waktu yang akan datang. Hmm, demikianlah tentang PKKS.
Sekarang, beralih ke hal lain yang juga tak kalah indahnya. Cihui, di SD Negeri Kaliwungu 03, sekarang, dipasang internet. Hari Ahad, tanggal 22 Januari 2012 kemarin, dipasang. Targetnya, tanggal 24 Januari 2012 sudah bisa diperlihatkan kepada asesor sebagai salah satu bukti fisik dari program-program sekolah. Dan Alhamdulillah, tanggal 24 Januari 2012 kemarin, benar-benar sudah jadi. Dan saat ini, jam ini, saya sedang memulai menikmati keberadaan jaringan internet di sekolah. Wah, indah sekali. Bila merunut pada cerita teman-teman guru dan Kepala Sekolah mengenai sejarah SD Negeri Kaliwungu 03 pada waktu itu, beberapa tahun yang lalu, sungguh tak terlintas dalam benak, bahwa akan ada jaringan internet di sini. Sekolah yang hampir diregrouping, gedung yang hampir roboh, akses masuk yang sulit, mebeler yang sangat kurang, kantor yang memprihatinkan, dan lain sebagainya. Namun, Al-hamdulillah. Keajaiban selalu menyertai setiap usaha. Benar sekali apa yang telah diinformasikan oleh Allah, "Maka, sungguh, dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Sungguh, dalam kesulitan ada kemudahan". Keberadaan SD Negeri Kaliwungu 03, dari yang waktu itu semacam itu, hingga hari ini yang semacam ini, pastilah semua tak lepas dari usaha dan kerja keras segenap unsur yang terlibat di dalamnya. Dan memang, harus ada motor yang sanggup menggerakan segenap komponen yang ada, hingga lahirlah kondisi yang lebih baik, sesuai dengan yang diharapkan. Subhanalloh!
Lalu, saya juga jadi teringat saat pertama kali menginjakkan kaki di Kecamatan Kedungreja ini. Tak terbayang saat itu, bahwa akhirnya saya bisa membaur dengan anak-anak, dengan situasi dan kondisi di sini. Jujur, saya akui, saya belum bisa seutuhnya beradaptasi dengan lingkungan masyarakat di sini, meskipun sudah cukup lama bilangan waktu yang saya habiskan di sini. Terhitung, sejak bulan Juni 2009. Namun, meski demikian, saya tetap bersyukur, bahwa meskipun saya tidak bisa sepenuhnya membaur, masyarakat di sini tetap care pada saya. Memang tidak bisa sepenuhnya seperti keluarga sendiri; saya juga sering merasa bingung saat dihadapkan pada situasi yang menuntut pengambilan keputusan tindakan paling tepat pada situasi tertentu di masyarakat; namun senyum yang terkembang dari mereka saat berpapasan, keramahan mereka, menunjukkan bahwa keberadaan saya, sedikit banyak diterima. Saya ingin berbuat sesuatu di sini, terutama untuk anak-anak. Namun masih bingung, harus memulai dari mana. Hehehe..... Begitulah. Dan ternyata, Allah mempertemukan saya dengan bumi Kedungreja ini, membawa sebegitu banyak hikmah yang dapat saya jadikan bekal dalam mengarungi kehidupan ini. Terutama, yang paling saya rasakan adalah, sebuah pelajaran berharga: Bila ingin maju, jangan ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Kesalahan dan kegagalan itu biasa. Jadikan itu sebagai bahan berharga untuk memperbaiki diri, mengawali hal-hal baru lainnya yang lebih baik, tanpa harus mengulangi kesalahan dan kegagalan serupa.
Perkembangan dan peningkatan ini, tak boleh berhenti hanya sampai di sini. Mari, terus berkarya. Untuk peningkatan kinerja kita sendiri, untuk peningkatan sekolah, untuk peningkatan mutu pendidikan di tanah air secara umum.
Bravo SD Negeri Kaliwungu 03!
Label:
catatan,
curhat,
introspeksi
Kamis, 12 Januari 2012
Alhamdulillaahilladzii ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihinnusyuur...
Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan aku setelah mematikan aku, dan kepada-Nya aku kembali.
Ada hal baru dalam hidupku. Namun, yang baru ini, tidak sepenuhnya saya sukai. Apa itu? Keranjingan facebook.
Di satu sisi, saya senang, karena bisa mengakses kemajuan teknologi dengan lebih cepat dan mudah. Namun, di sisi lain, pikiran jadi tersedot terus ke si fb itu. Murah, memang. Tapi karena sering, pulsa jadi cepet habis. Ujung-ujungnya, boros. Untuk hal yang satu ini, saya belum bisa mengatasi. Astagfirullaah... Padahal, boros itu perilaku syaitan, kan? Whaduh, apa bedanya sekarang, saya dengan syaitan?
Saya berharap, ada di antara sidang pembaca yang sudi berbagi tips. Bagaimana caranya, bisa tetap fb-an setiap hari lewat hp, tapi pulsa juga bisa tetap aman; tak cepat habis. Maturnuwun...
Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan aku setelah mematikan aku, dan kepada-Nya aku kembali.
Ada hal baru dalam hidupku. Namun, yang baru ini, tidak sepenuhnya saya sukai. Apa itu? Keranjingan facebook.
Di satu sisi, saya senang, karena bisa mengakses kemajuan teknologi dengan lebih cepat dan mudah. Namun, di sisi lain, pikiran jadi tersedot terus ke si fb itu. Murah, memang. Tapi karena sering, pulsa jadi cepet habis. Ujung-ujungnya, boros. Untuk hal yang satu ini, saya belum bisa mengatasi. Astagfirullaah... Padahal, boros itu perilaku syaitan, kan? Whaduh, apa bedanya sekarang, saya dengan syaitan?
Saya berharap, ada di antara sidang pembaca yang sudi berbagi tips. Bagaimana caranya, bisa tetap fb-an setiap hari lewat hp, tapi pulsa juga bisa tetap aman; tak cepat habis. Maturnuwun...
Kamis, 24 November 2011
CATATAN HARI INI
Senang sekali mengikuti kuliah bersama pak Sony tadi siang. Waktu dua jam kurang beberapa menit berlalu tanpa terasa lelah. Berhasil menebus rasa lelahku setelah menempuh perjalanan di kendaraan umum selama kurang lebih 3 jam. Penat sekali. Tapi mengikuti kuliah pak Sony yang sarat pesan, penjelasan juga gamblang, membuat kepenatan itu sirna. Thanks, sir...
Pak Sony, yang meskipun dalam keterbatasan geraknya; tetap memiliki semangat juang yang sangat luar biasa. Tiga point dalam perkuliahan metode penelitian tadi siang:
Sikat dulu, pikir belakangan...
Apapun pilihan kita, yang penting punya argumentasinya
Apapun yang kita katakan, yang penting ada buktinya
Tentang yang pertama: Sikat dulu, pikir belakangan.
Sederhana saja penjelasannya: Saat ada tawaran/ tantangan/ konsep/ pilihan/, segera putuskan untuk mengambilnya. Segala hal ihwal yang menyertai keputusan tersebut, pasti akan ada jalan keluarya. Tuhan menitipkan otak dan akal pada kita untuk digunakan sebagaimana mestinya. Dan tidak mungkin juga, kan, Tuhan menelantarkan kita sendiri. Begitulah pesan beliau di akhir perkuliahan tadi, saat memaparkan contoh dari alasan mengapa memilih judul penelitian tertentu dengan sangat panjang, lebar, dan gamblang. Terasa begitu berat untuk dijalankan. Lalu meluncurlah pernyataan yang penuh bobot motivasi tersebut. Thanks. sir...
Lalu, apapun pilihan kita, yang penting punya argumentasinya
Pernyataan tersebut juga berangkat dari adanya reaksi muka kami setelah pemaparan contoh rumusan masalah yang pak Sony buat. Dalam pemaparan tersebut, banyak sekali buku-buku yang dijadikan sebagai bahan referensi dalam setiap kalimat yang dipaparkan beliau. Wah wah wah.... Secara, kami ini mahasiswa NR, sudah tua-tua (hehehe...) tentu saja merinding mendengar dan melihat pemaparan yang seperti itu. Muka kami kontan berkerut dan berkerenyit begitu pak Sony menyelesaikan penjelasannya. Menyaksikan wajah kami yang sangat tidak indah dipandang, pak Sony dengan bijaksana melontarkan kalimat motivasi tersebut: "sebenarnya mudah, ibu-ibu, bapak-bapak, yang penting, apapun rumusan masalah yang kita pilih, yang penting memiliki argumentasi yang jelas, memiliki dasar teoritis yang kuat, sehingga hasil penelitian kita bisa bagus dan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara jujur dan terbuka. Sehingga akhirnya, bisa membawa manfaat yang besar untuk kemajuan semuanya, terutama bagi objek penelitian kita. Begitu...."
Dan yang terakhir, apapun yang kita katakan, yang penting ada buktinya.
Ini agak mirip sama yang di atas, hanya ini bedanya begini. Yang kedua tadi itu, argumentasi/ dasar teori sebagai dasar kita menulis sebuah penelitian. Nah, sementara yang terakhir ini, bukti yang dapat kita utarakan saat kita memaparkan penelitian yang sudah kita tulis tersebut. Misalnya, ada pernyataan bahwa si A nilainya lebih baik dari si B. Buktinya apa? Tentu saja harus ada daftar nilai yang bisa memperlihatkan adanya perbandingan nilai antara nilai A dan nilai B tersebut. Nah, daftar nilai itulah yang dimaksud sebagai bukti tentang pernyataan bahwa si A nilainya lebih baik dari si B. Begitu....
Hari yang indah. InsyaAllah besok lebih indah lagi. Thanks, Sir...
Pak Sony, yang meskipun dalam keterbatasan geraknya; tetap memiliki semangat juang yang sangat luar biasa. Tiga point dalam perkuliahan metode penelitian tadi siang:
Sikat dulu, pikir belakangan...
Apapun pilihan kita, yang penting punya argumentasinya
Apapun yang kita katakan, yang penting ada buktinya
Tentang yang pertama: Sikat dulu, pikir belakangan.
Sederhana saja penjelasannya: Saat ada tawaran/ tantangan/ konsep/ pilihan/, segera putuskan untuk mengambilnya. Segala hal ihwal yang menyertai keputusan tersebut, pasti akan ada jalan keluarya. Tuhan menitipkan otak dan akal pada kita untuk digunakan sebagaimana mestinya. Dan tidak mungkin juga, kan, Tuhan menelantarkan kita sendiri. Begitulah pesan beliau di akhir perkuliahan tadi, saat memaparkan contoh dari alasan mengapa memilih judul penelitian tertentu dengan sangat panjang, lebar, dan gamblang. Terasa begitu berat untuk dijalankan. Lalu meluncurlah pernyataan yang penuh bobot motivasi tersebut. Thanks. sir...
Lalu, apapun pilihan kita, yang penting punya argumentasinya
Pernyataan tersebut juga berangkat dari adanya reaksi muka kami setelah pemaparan contoh rumusan masalah yang pak Sony buat. Dalam pemaparan tersebut, banyak sekali buku-buku yang dijadikan sebagai bahan referensi dalam setiap kalimat yang dipaparkan beliau. Wah wah wah.... Secara, kami ini mahasiswa NR, sudah tua-tua (hehehe...) tentu saja merinding mendengar dan melihat pemaparan yang seperti itu. Muka kami kontan berkerut dan berkerenyit begitu pak Sony menyelesaikan penjelasannya. Menyaksikan wajah kami yang sangat tidak indah dipandang, pak Sony dengan bijaksana melontarkan kalimat motivasi tersebut: "sebenarnya mudah, ibu-ibu, bapak-bapak, yang penting, apapun rumusan masalah yang kita pilih, yang penting memiliki argumentasi yang jelas, memiliki dasar teoritis yang kuat, sehingga hasil penelitian kita bisa bagus dan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara jujur dan terbuka. Sehingga akhirnya, bisa membawa manfaat yang besar untuk kemajuan semuanya, terutama bagi objek penelitian kita. Begitu...."
Dan yang terakhir, apapun yang kita katakan, yang penting ada buktinya.
Ini agak mirip sama yang di atas, hanya ini bedanya begini. Yang kedua tadi itu, argumentasi/ dasar teori sebagai dasar kita menulis sebuah penelitian. Nah, sementara yang terakhir ini, bukti yang dapat kita utarakan saat kita memaparkan penelitian yang sudah kita tulis tersebut. Misalnya, ada pernyataan bahwa si A nilainya lebih baik dari si B. Buktinya apa? Tentu saja harus ada daftar nilai yang bisa memperlihatkan adanya perbandingan nilai antara nilai A dan nilai B tersebut. Nah, daftar nilai itulah yang dimaksud sebagai bukti tentang pernyataan bahwa si A nilainya lebih baik dari si B. Begitu....
Hari yang indah. InsyaAllah besok lebih indah lagi. Thanks, Sir...
CATATAN KEMARIN
Wednesday, November 16, 2011 4:48:20 PM
Hari ini, jadwal ngajarku di SD Negeri Kaliwungu 03. Dan saya benar-benar menikmati ritme sehari ini. Bersama anak-anak yang ceria dan penuh semangat menyambut tawaran scenario pembelelajaranku, membuat hatiku tidak merasa lelah sama sekali. Masuk di kelas IV, mengoptimalkan hafalan anak-anak dengan mengkondisikan mereka pada suasana kompetisi. Ternyata, tak seorangpun anak yang mau untuk benar-benar kalah. Semua ingin menjadi yang pertama. Dan ini sangat menyenangkan. Membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok, memberikan tugas untuk menghafalkan materi, dan menagih hafalan mereka dalam ajang kompetisi. Maka, acara menghafalkan ketentuan salat (syarat sah, syarat wajib dan sunnah salat) menjadi sangat menyenangkan. Dimulai sekitar jam 07.15, dan saat jarum jam menunjuk angka 09.00, seolah tak mau berhenti dari proses pembelajaran. Betapa menyenangkan.
Lalu, kelas VI pun tak mau kalah. Belajar dalam kelompok, dituntut kekompakan dan kerjasama yang benar-benar tulus. Sama seperti di kelas IV, anak-anak kelas VI pun tak ada yang mau untuk kalah. Alhasil, acara menghafalkan surat al-Maidah ayat 3 beserta artinya, menjadi sangat menangtang dan menyenangkan. Apalagi, pulangnya bergiliran sesuai hasil kompetisi hari itu. Waow! Mengapa tak sedari dulu saya menyadari ini semua, ya? Makasih saya ucapkan pada Pak Nurmuludin. Atas segala ide, pemikiran, masukan, saran, contoh, bukti, dan lain sebagainya. Jujur, sejujurnya saya ingin mengajak anak-anak lebih senang belajar. Tapi bingung harus dengan cara apa. Wah, ternyata ada cara sederhana namun cukup bisa diharapkan. Yakni, memaksimalkan kerja kelompok. Dan itu, harus dilakukan dengan TELATEN. Tak boleh jemu. Bahkan dituntut untuk mengembangkan terus kreatifitas agar anak-anak semakin tertarik belajar. Thanks a lot, Sir…
Lalu, belajar bersama anak-anak kelas III. Mencoba memperdalam materi BTQ. Ya, suasana pembelajaran benar-benar cermin dari suasana hati. Hati yang semangat, penuh motivasi, harapan, dan cita-cita, akan melahirkan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Betapa senangnya melihat anak-anak; yang meskipun tidak bisa; namun tetap memiliki rasa percaya diri untuk tampil di depan, dan tanpa malu tetap mau belajar.
Dan yang terakhir, latihan pesta siaga bersama beberapa anak kelas IV. Wah, benar-benar, deh. Dulu, bila melihat anak yang lambat berpikir, pasti segala cap negative akan menempel dengan begitu mudahnya pada anak-anak tersebut. Tapi tadi sore, ajaib. Entah energy apa yang sedang merasuki saya hari ini. Melihat anak-anak tak langsung bisa melafalkan bacaan tasbih, tahmid, dan takbir, saya bisa menerimanya dengan sangat lapang. Bahkan, tertawa. Catet! TERTAWA! Seolah, saya merasa sedemikian bebas, tak ada beban sama sekali. Rasa kemakluman saya begitu besar hari ini. Segala salah anak, saya maafkan. Hehe…
Begitulah. Intinya, apa yang kita pikirkan, itu yang akan kita alami. Bila pikiran-pikiran positif yang menguasai hati kita, maka yakinlah bahwa pengalaman kita pun akan menjadi sangat positif. Anak-anak, sungguh saya sangat mencintai kalian. Love u….
Hari ini, jadwal ngajarku di SD Negeri Kaliwungu 03. Dan saya benar-benar menikmati ritme sehari ini. Bersama anak-anak yang ceria dan penuh semangat menyambut tawaran scenario pembelelajaranku, membuat hatiku tidak merasa lelah sama sekali. Masuk di kelas IV, mengoptimalkan hafalan anak-anak dengan mengkondisikan mereka pada suasana kompetisi. Ternyata, tak seorangpun anak yang mau untuk benar-benar kalah. Semua ingin menjadi yang pertama. Dan ini sangat menyenangkan. Membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok, memberikan tugas untuk menghafalkan materi, dan menagih hafalan mereka dalam ajang kompetisi. Maka, acara menghafalkan ketentuan salat (syarat sah, syarat wajib dan sunnah salat) menjadi sangat menyenangkan. Dimulai sekitar jam 07.15, dan saat jarum jam menunjuk angka 09.00, seolah tak mau berhenti dari proses pembelajaran. Betapa menyenangkan.
Lalu, kelas VI pun tak mau kalah. Belajar dalam kelompok, dituntut kekompakan dan kerjasama yang benar-benar tulus. Sama seperti di kelas IV, anak-anak kelas VI pun tak ada yang mau untuk kalah. Alhasil, acara menghafalkan surat al-Maidah ayat 3 beserta artinya, menjadi sangat menangtang dan menyenangkan. Apalagi, pulangnya bergiliran sesuai hasil kompetisi hari itu. Waow! Mengapa tak sedari dulu saya menyadari ini semua, ya? Makasih saya ucapkan pada Pak Nurmuludin. Atas segala ide, pemikiran, masukan, saran, contoh, bukti, dan lain sebagainya. Jujur, sejujurnya saya ingin mengajak anak-anak lebih senang belajar. Tapi bingung harus dengan cara apa. Wah, ternyata ada cara sederhana namun cukup bisa diharapkan. Yakni, memaksimalkan kerja kelompok. Dan itu, harus dilakukan dengan TELATEN. Tak boleh jemu. Bahkan dituntut untuk mengembangkan terus kreatifitas agar anak-anak semakin tertarik belajar. Thanks a lot, Sir…
Lalu, belajar bersama anak-anak kelas III. Mencoba memperdalam materi BTQ. Ya, suasana pembelajaran benar-benar cermin dari suasana hati. Hati yang semangat, penuh motivasi, harapan, dan cita-cita, akan melahirkan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Betapa senangnya melihat anak-anak; yang meskipun tidak bisa; namun tetap memiliki rasa percaya diri untuk tampil di depan, dan tanpa malu tetap mau belajar.
Dan yang terakhir, latihan pesta siaga bersama beberapa anak kelas IV. Wah, benar-benar, deh. Dulu, bila melihat anak yang lambat berpikir, pasti segala cap negative akan menempel dengan begitu mudahnya pada anak-anak tersebut. Tapi tadi sore, ajaib. Entah energy apa yang sedang merasuki saya hari ini. Melihat anak-anak tak langsung bisa melafalkan bacaan tasbih, tahmid, dan takbir, saya bisa menerimanya dengan sangat lapang. Bahkan, tertawa. Catet! TERTAWA! Seolah, saya merasa sedemikian bebas, tak ada beban sama sekali. Rasa kemakluman saya begitu besar hari ini. Segala salah anak, saya maafkan. Hehe…
Begitulah. Intinya, apa yang kita pikirkan, itu yang akan kita alami. Bila pikiran-pikiran positif yang menguasai hati kita, maka yakinlah bahwa pengalaman kita pun akan menjadi sangat positif. Anak-anak, sungguh saya sangat mencintai kalian. Love u….
Label:
kerja kelompok,
pembelajaran,
pra pesta siaga
Senin, 21 November 2011
Jangan bersedih...
Jangan bersedih. Demikian pesan al-qur`an pada kita. Tapi tetap saja saya merasa sedih. Apa pasal? Niate akan ngcopy data dari komputer ke flashdisk, tapi yang terjadi justru flashdisk-ku kebanjiran virus. Duh, jan. Mana ga ada yang ditanyai untuk mengatasinya bagaimana. Bingung. Sedih. Akhirnya, file yang sudah didapat belum dapat dikeluarkan. Repot juga tidak punya komputer dan akses komputer sendiri. Yah, selamat menikmati kebodohan diri. Makanya, belajar, biar ga sedih lagi. Padahal, itu file penting sekali. Sebagai bahan penyusunan tugas metodologi penelitian yang harus dikumpul hari kamis ini. Jangan sedih. Yang harus dilakukan sekarang adalah terus belajar.
Jumat, 14 Oktober 2011
CATATAN MALAM SABTU
Sepenuh syukur saya panjatkan ke hadirat Allah swt. Entah mengapa, saya merasa begitu bahagia malam ini. Mungkin, karena bisa nge-blog lagi, setelah sekian lama tidak menjangkau media berbagi ini.
Banyak hal terjadi selama satu tahun ini. Oh, bukan. Bahkan mungkin 1,5 tahun. Sangat lama. Cerita tentang perkuliahan, belum pernah saya kisahkan. Ya, sejak September 2010 yang lalu, saya kuliah lagi di STAIN Purwokerto. Gedungnya sudah tambah megah, program perkuliahan semakin banyak dan cuantik, dosennya tambah sip-sip, dan yang pasti, biaya tentu semakin mahal. Hehehe
Saya bersyukur, bisa mengenyam pendidikan kembali. Barangkali, teman-teman yang melihat aktivitas saya sekarang, heran. Bagaimana mungkin, dengan kegiatan yang padat (sebenarnya bukan padat, tapi sering bolak-balik saja. hehehe), saya masih bisa bilang 'sangat bahagia'.
Bayangkan saja, teman-teman. Senin-Rabu, saya full ngajar di SD. Kamis, hanya sampai jam 9 saya mengajar. Lalu cabut ke STAIN Purwokerto, yang jarak tempuh dengan kendaraan umum sekitar 3-4 jam. Lalu kuliah sampai malam. Jum'at pagi, saya sengaja mengosongkan jam mengajar di sekolah, karena Jum'at sore masih ada kuliah. Sekedar dengan pertimbangan untuk efektifitas waktu saja. Bolak-balik 6-8 jam, bukankah itu cukup menguras tenaga? Setengah hari Jum'at itu, saya manfaatkan untuk bercengkrama dengan putri tersayangku (Azzahrotu Labibah; 22 bulan). Selepas Jum'at, berangkat ke STAIN Purwokerto lagi. Kuliah lagi sampai malam (sekitar jam 20.30 selesai). Lalu istirahat. Sabtu, jam 02.30, harus sudah ada di pinggir jalan raya menunggu bus yang akan mengantar ke tempat kerja. Bila agak siang sedikit saja, maka bisa dipastikan, akan semakin siang saya sampai di sekolah. Alhamdulillah, teman-teman kerja menyadari keadaan saya ini. Mereka maklum. Tapi yo moso, telat kok jadi kebiasaan. Ga enak juga lama-lama. Sabtu sore (sekitar jam 14.00), saya pulang ke rumah di Pekuncen. Bermalam minggu di rumah (meski kadang-kadang lembur di sekolah juga; artinya ga mudik), lalu Ahad pagi sampai siang, saya berkesempatan liburan penuh dengan anak dan suami. Ahad selepas dzuhur, saya kembali ke tempat kerja (dengan pertimbangan, agar Senin pagi tidak gugup). Demikianlah siklus setiap minggunya. Dan itu sudah berjalan berbulan-bulan, dan saya menikmatinya, dan Allah membukakan satu demi satu pintu keindahan dibalik kepayahan tersebut yang selama ini saya tidak menyadarinya.
Semua sudah ada jalurnya masing-masing. Pada kuliah yang tadi sore saya ikuti, ada satu kata kunci tentang RIZKI. Bahwa dalam Bahasa Arab, kata RIZKI ditulis dalam tiga huruf (Ra Za dan Qof). Ditransliterasikan: R Z K. Ternyata, RZK itu bukan tanpa makna. RZK memiliki makna ganda. Bisa berarti Rezeki, bisa juga berarti Reziko. Nah, jadi, dalam setiap rezeki yang kita terima, bukan semata-mata mengandung unsur kesenangan belaka. Namun, ada reziko juga di dalamnya. Ini artinya, kita diajarkan untuk berlaku sewajarnya saja (tiba tengah; orang jawa bilang). Senang ya sewajarnya. Karena, kesenangan itu pastilah untuk membeli sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan dibaliknya. Namun, sedih pun juga sewajarnya saja. Karena, dibalik kesedihan itu, pasti ada hikmah besar yang sering kita itu tidak tahu. Lho, lho, kok jadi nglantur.
Pokoknya, malam ini, saya bahagia bisa menulis lagi. Bisa berbagi lagi. Mudah-mudahan, ke depan, bisa lebih teratur menulis. Bisa menjadi penulis (karena kata pak Misbah barusan, seorang guru itu harus terbiasa menulis). Bisa menjadi peneliti (karena kata pak Sony kemarin, guru itu hendaknya piawai meneliti. Bukankah banyak permasalahan pendidikan yang harus dipecahkan???). Bisa menjadi manusia yang luar biasa (demikian kata pak Ridwan). Bisa menjadi guru yang benar-benar berkepribadian (demikian pak Nurfuadi dan pak Asdlori ngendika). Bisa menjadi sosok yang menghargai dan memanusiakan yang lain selayaknya (demikian pak Toifur mewasiatkan). Wah, pokoknya, kuliah S-1 ini, luar biasa, yah. Lebih banyak tantangan. Lebih banyak kesempatan untuk berkembang. Tinggal bagaimana memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada. Dan, besok pagi, jam 02.30, harus sudah di pinggir jalan raya, menunggu bus yang akan mengantarku ke tempat kerja. SEMANGAT! BISMILLAH!
Banyak hal terjadi selama satu tahun ini. Oh, bukan. Bahkan mungkin 1,5 tahun. Sangat lama. Cerita tentang perkuliahan, belum pernah saya kisahkan. Ya, sejak September 2010 yang lalu, saya kuliah lagi di STAIN Purwokerto. Gedungnya sudah tambah megah, program perkuliahan semakin banyak dan cuantik, dosennya tambah sip-sip, dan yang pasti, biaya tentu semakin mahal. Hehehe
Saya bersyukur, bisa mengenyam pendidikan kembali. Barangkali, teman-teman yang melihat aktivitas saya sekarang, heran. Bagaimana mungkin, dengan kegiatan yang padat (sebenarnya bukan padat, tapi sering bolak-balik saja. hehehe), saya masih bisa bilang 'sangat bahagia'.
Bayangkan saja, teman-teman. Senin-Rabu, saya full ngajar di SD. Kamis, hanya sampai jam 9 saya mengajar. Lalu cabut ke STAIN Purwokerto, yang jarak tempuh dengan kendaraan umum sekitar 3-4 jam. Lalu kuliah sampai malam. Jum'at pagi, saya sengaja mengosongkan jam mengajar di sekolah, karena Jum'at sore masih ada kuliah. Sekedar dengan pertimbangan untuk efektifitas waktu saja. Bolak-balik 6-8 jam, bukankah itu cukup menguras tenaga? Setengah hari Jum'at itu, saya manfaatkan untuk bercengkrama dengan putri tersayangku (Azzahrotu Labibah; 22 bulan). Selepas Jum'at, berangkat ke STAIN Purwokerto lagi. Kuliah lagi sampai malam (sekitar jam 20.30 selesai). Lalu istirahat. Sabtu, jam 02.30, harus sudah ada di pinggir jalan raya menunggu bus yang akan mengantar ke tempat kerja. Bila agak siang sedikit saja, maka bisa dipastikan, akan semakin siang saya sampai di sekolah. Alhamdulillah, teman-teman kerja menyadari keadaan saya ini. Mereka maklum. Tapi yo moso, telat kok jadi kebiasaan. Ga enak juga lama-lama. Sabtu sore (sekitar jam 14.00), saya pulang ke rumah di Pekuncen. Bermalam minggu di rumah (meski kadang-kadang lembur di sekolah juga; artinya ga mudik), lalu Ahad pagi sampai siang, saya berkesempatan liburan penuh dengan anak dan suami. Ahad selepas dzuhur, saya kembali ke tempat kerja (dengan pertimbangan, agar Senin pagi tidak gugup). Demikianlah siklus setiap minggunya. Dan itu sudah berjalan berbulan-bulan, dan saya menikmatinya, dan Allah membukakan satu demi satu pintu keindahan dibalik kepayahan tersebut yang selama ini saya tidak menyadarinya.
Semua sudah ada jalurnya masing-masing. Pada kuliah yang tadi sore saya ikuti, ada satu kata kunci tentang RIZKI. Bahwa dalam Bahasa Arab, kata RIZKI ditulis dalam tiga huruf (Ra Za dan Qof). Ditransliterasikan: R Z K. Ternyata, RZK itu bukan tanpa makna. RZK memiliki makna ganda. Bisa berarti Rezeki, bisa juga berarti Reziko. Nah, jadi, dalam setiap rezeki yang kita terima, bukan semata-mata mengandung unsur kesenangan belaka. Namun, ada reziko juga di dalamnya. Ini artinya, kita diajarkan untuk berlaku sewajarnya saja (tiba tengah; orang jawa bilang). Senang ya sewajarnya. Karena, kesenangan itu pastilah untuk membeli sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan dibaliknya. Namun, sedih pun juga sewajarnya saja. Karena, dibalik kesedihan itu, pasti ada hikmah besar yang sering kita itu tidak tahu. Lho, lho, kok jadi nglantur.
Pokoknya, malam ini, saya bahagia bisa menulis lagi. Bisa berbagi lagi. Mudah-mudahan, ke depan, bisa lebih teratur menulis. Bisa menjadi penulis (karena kata pak Misbah barusan, seorang guru itu harus terbiasa menulis). Bisa menjadi peneliti (karena kata pak Sony kemarin, guru itu hendaknya piawai meneliti. Bukankah banyak permasalahan pendidikan yang harus dipecahkan???). Bisa menjadi manusia yang luar biasa (demikian kata pak Ridwan). Bisa menjadi guru yang benar-benar berkepribadian (demikian pak Nurfuadi dan pak Asdlori ngendika). Bisa menjadi sosok yang menghargai dan memanusiakan yang lain selayaknya (demikian pak Toifur mewasiatkan). Wah, pokoknya, kuliah S-1 ini, luar biasa, yah. Lebih banyak tantangan. Lebih banyak kesempatan untuk berkembang. Tinggal bagaimana memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada. Dan, besok pagi, jam 02.30, harus sudah di pinggir jalan raya, menunggu bus yang akan mengantarku ke tempat kerja. SEMANGAT! BISMILLAH!
Langganan:
Postingan (Atom)
