Alhamdulillaahilladzii ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur
Demikian besar rasa syukurku atas karunia yang Allah berikan padaku. Aku sedang menjalani tahap baru dalam kehidupanku. Mengikuti Pendidikan Latihan Profesi Guru dengan harapan Pergi Langsing (dari pengalaman) Pulang Gemuk (dengan pengalaman baru) di Hotel Olimpic Semarang sekarang. Kegiatan dibuka kemarin, Senin 14 September 2015 dan direncanakan akan selesai pada hari Rabu, 23 September 2015 besok.
Aku yakin, pasti Allah telah menyiapkan hikmah yang sangat besar atas kegiatan yang diberikan untukku sekarang. Aku dipertemukan dengan orang-orang hebat. Orang-orang yang memandang dunia ini tidak sekedar sebagai materi yang harus dicari dan diperjuangkan. Tapi orang-orang yang memandang dunia ini hanya sebagai sarana untuk mendapatkan nilai yang lebih baik di hari kemudian kelak. Subhanalloh...
Orang-orang ini menginspirasiku untuk menulis di blog.ku sekarang. Mereka, Ibu Bety dan Ibu Malihatun, dua diantara sekian banyak Guru Pendidikan Agama Islam dari Kabupaten Tegal. Subhanalloh. Wal hamdulillah. Wa laa ilaaha illallooh. Alloohu akbar.
Ibu Bety. Istri polisi. Dua orang putra. Memandang bahwa anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Maka tidak selayaknya ketika menyerahkan pengasuhan anak begitu saja kepada orang lain. Pernah menjalani hidup rumah tangga seperti yang kujalani sekarang. Long Distance Relationship. Hidup prihatin dengan gaji yang harus dikelola sedemikian rupa. Sampai akhirnya, sekarang sudah punya rumah sendiri. Bisa berkumpul kembali dengan keluarga. Berkumpul dengan suami dan anak-anak tercinta. Melibatkan orang tua dalam hal pengasuhan anak ditempuh ketika harus pergi bekerja. Ibu Bety, dengan pengalaman hidup yang menempanya sekarang berpikir, bahwa putra-putranya kelak, diharapkan bisa memperistrikan perempuan yang "di rumah saja tapi tetap eksis". Bisa tetap mengurus keluarga dan anak-anak dengan baik, tapi kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi. Subhanalloh! Menurutku, ini pemikiran yang luar biasa. Di tengah kehidupan yang serba materi, serba kerja untuk mengejar dunia, masih ada yang bisa berpikir bahwa pengasuhan dan pendidikan anak adalah yang pertama dan utama. Dan, sungguh, jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku setuju dengan pemikirannya ini, meskipun sampai saat ini Allah belum mempertemukanku pada kesempatan dimana aku bisa menikmati bertemu dengan keluarga setiap hari. Tapi aku tetap yakin, pasti ada saatnya kelak aku bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Bertemu suami dan anak-anak setiap hari, merenda masa dengan dunia yang lebih baik untuk kesuksesan hari akhir kelak. Bismillaah... Laa haula wa laa quwwata illaa billaah....
Ibu Malihatun. Istri guru kelas. Empat orang putra. Tidak sibuk bercerita berapa hektare sawah yang dimilikinya. Atau, seberapa megah rumahnya. Atau, seberapa besar gajinya yang tersisa. Tapi cerita yang keluar dari mulutnya adalah rasa syukur karena dikarunia putra yang solih. Putra yang begitu perhatian pada bundanya, memperhatikan perasaan bundanya, mengamalkan amalan yang juga diamalkan bundanya. Membaca Al-Qur'an, salat malam. Mencari ketenangan hati dengan mendekatkan diri kepada Allah. Sederhana, tapi serius dalam memperjuangkan kepentingan akhiratnya. Aku, yang untuk bertadarus dan salat malam, sudah diberi waktu yang demikian leluasa oleh Allah, terkadang tertatih-tatih melakoninya. Beliau, di tengah kesibukannya mengurus keluarga, suami, anak, masih menyempatkan diri untuk bertadarrus setiap habis salat, dan menjalankan salat malam. Demikian yang aku saksikan disini, sejak kemarin menjadi room mate.nya sampai dengan dinihari ini. Subhanalloh! Sungguh, ini pembelajaran yang sangat efektif untuk membangkitkan kembali semangatku dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Terimakasih ya Allah. Aku bersyukur kepada-Mu atas semuanya ini.
Ibu Bety. Ibu Malihatun. Mereka, dua wanita hebat yang Allah kirimkan padaku saat ini. Teman sekamar dalam kegiatan PLPG ini. Aku akan belajar banyak dari mereka. Bismillaah.....
Senin, 14 September 2015
Selasa, 07 Oktober 2014
KEMBALI MENULIS
Alhamdulillah...
Bisa kembali menulis di sini. Setiap diminta mengisi curriculum vitae, membaca dan menulis selalu saya cantumkan sebagai hobi. Namun, ternyata tak mudah mempertanggungjawabkannya. Selalu, saja. Ada hal-hal yang dijadikan sebagai alasan untuk tidak menekuni kedua hobi tersebut.
Padahal, hanya dengan giat membaca dan menulis saja, akal pikiran akan senantiasa tercerahkan.
Dan sekarang, saya kembali menulis.
Tanggal 19 Juni 2014 yang lalu, saya melewati fase baru dalam kehidupan. Kembali menjadi seorang ibu. Subhanalloh! Sungguh membahagiakan, mendebarkan, penuh kejutan. Dan saya sangat menikmatinya. Ditambah dengan sikap suami yang jauh lebih dewasa dibanding pada saat saya baru menjadi ibu.
Juga, ada perkembangan sedikit dalam hal pola asuh. Perkembangan yang saya maksudkan, ketika sekarang saya harus kembali menunaikan tugas negara, saya berusaha agar tetap bisa memberikan ASI. Meskipun tidak setiap hari. Minimal, setiap pulang, ASI bisa tetap diberikan pada putri kedua. Ya. Jauh di tempat tugas ini, ASI saya perah setiap hari. Saya berikan pada makhluk Allah yang lain. Tumbuhan, hewan, serangga.... Tujuannya, agar ASI tetap berproduksi, sehingga ketika pulang, putri kecilku bisa tetap menikmati ASI bundanya ini. Meskipun tidak menetek langsung, namun ada kebahagiaan tersendiri manakala ASI yang telah diperah, masuk botol, dihisap tandas oleh putri kecilku. Sekarang, usinya sudah 112 (seratus dua belas) hari. Sudah bisa tengkurap. Saya sangat bersyukur. Ini hal baru dalam hidupku, karena pada saat usia putri pertamaku baru akan memasuki 4 bulan, dia sudah tidak bisa menikmati ASI lagi. Sungguh, semua semata-mata karena karunia Allah SWT.
Putri pertamaku, usianya kurang lebih sudah 4 tahun 9 bulan 8 hari. Sangat ngemong pada sang adik. Ngajinya pinter. Sekarang sudah Iqra jilid 5. Sungguh, ini adalah karunia Allah yang tak terkira. Saya sangat bersyukur.
Suamiku juga sangat mendukung karier yang sedang saya jalani. Begitu pun. Saya juga sangat mendukung apa yang suamiku tekuni. Mudah-mudahan, saling support ini menjadi amal ibadah bagi kami dalam mengayuh dan mengarungi biduk rumah tangga.
Sungguh tak mudah. Melewati masa-masa awal adaptasi, harus terpisah, banyak godaan silih berganti. Semoga Allah senantiasa meneguhkan langkah kami. Aamiin
Bisa kembali menulis di sini. Setiap diminta mengisi curriculum vitae, membaca dan menulis selalu saya cantumkan sebagai hobi. Namun, ternyata tak mudah mempertanggungjawabkannya. Selalu, saja. Ada hal-hal yang dijadikan sebagai alasan untuk tidak menekuni kedua hobi tersebut.
Padahal, hanya dengan giat membaca dan menulis saja, akal pikiran akan senantiasa tercerahkan.
Dan sekarang, saya kembali menulis.
Tanggal 19 Juni 2014 yang lalu, saya melewati fase baru dalam kehidupan. Kembali menjadi seorang ibu. Subhanalloh! Sungguh membahagiakan, mendebarkan, penuh kejutan. Dan saya sangat menikmatinya. Ditambah dengan sikap suami yang jauh lebih dewasa dibanding pada saat saya baru menjadi ibu.
Juga, ada perkembangan sedikit dalam hal pola asuh. Perkembangan yang saya maksudkan, ketika sekarang saya harus kembali menunaikan tugas negara, saya berusaha agar tetap bisa memberikan ASI. Meskipun tidak setiap hari. Minimal, setiap pulang, ASI bisa tetap diberikan pada putri kedua. Ya. Jauh di tempat tugas ini, ASI saya perah setiap hari. Saya berikan pada makhluk Allah yang lain. Tumbuhan, hewan, serangga.... Tujuannya, agar ASI tetap berproduksi, sehingga ketika pulang, putri kecilku bisa tetap menikmati ASI bundanya ini. Meskipun tidak menetek langsung, namun ada kebahagiaan tersendiri manakala ASI yang telah diperah, masuk botol, dihisap tandas oleh putri kecilku. Sekarang, usinya sudah 112 (seratus dua belas) hari. Sudah bisa tengkurap. Saya sangat bersyukur. Ini hal baru dalam hidupku, karena pada saat usia putri pertamaku baru akan memasuki 4 bulan, dia sudah tidak bisa menikmati ASI lagi. Sungguh, semua semata-mata karena karunia Allah SWT.
Putri pertamaku, usianya kurang lebih sudah 4 tahun 9 bulan 8 hari. Sangat ngemong pada sang adik. Ngajinya pinter. Sekarang sudah Iqra jilid 5. Sungguh, ini adalah karunia Allah yang tak terkira. Saya sangat bersyukur.
Suamiku juga sangat mendukung karier yang sedang saya jalani. Begitu pun. Saya juga sangat mendukung apa yang suamiku tekuni. Mudah-mudahan, saling support ini menjadi amal ibadah bagi kami dalam mengayuh dan mengarungi biduk rumah tangga.
Sungguh tak mudah. Melewati masa-masa awal adaptasi, harus terpisah, banyak godaan silih berganti. Semoga Allah senantiasa meneguhkan langkah kami. Aamiin
Label:
bersyukur,
kembali menyapa
Sabtu, 09 Februari 2013
Alhamdulillah....
Alhamdulillah.... Purna sudah sebuah agenda yang membuatku sampai tak tidur semalaman. Mungkin, bagi orang yang berpemikiran ideal, adanya kegiatan yang sangat meriah bagiku ini, belum apa-apanya. Tak apa. Setiap orang boleh menilai. Boleh merasakan. Akan dari sudut mana orang menilai, itu juga masing-masing pribadi mempunyai kriteria sendiri.
Bagiku, ini sungguh sudah sangat luar biasa. Hanya jujur, memang ada beberapa catatan, dan itu semua ada pada diriku sendiri. Saya, sangat mengakui bahwa jiwa manajerial saya tidak bagus. Saya juga tidak bisa ambil sikap tegas atas hal-hal yang membutuhkan keputusan cepat. Bahkan, menjadi terkesan plin plan.
Saya sangat menyesalkan untuk hal pembagian doorprize. Adalah hal yang sangat menggiurkan, bagiku, ketika nama disebutkan, lalu maju, mendapatkan kesempatan menjawab, benar, lalu mendapatkan hadiah. Namun tidak bagi anak-anak. Sebab, tidak semua anak berjiwa pemberani. Di sini, peran saya untuk menumbuhkan keberanian anak-anak, terbukti nihil. Bila pun ada anak yang bersedia maju, itu bukan karena berhasil ditumbuhkan keberaniannya oleh guru, tapi memang sudah dari sononya anak itu memang pemberani. Hal yang perlu dibenahi.
Ditambah, tidak ada mekanisme yang jelas sejak awal. Alhasil, ada anak yang mendapatkan soal dengan kualitas sangat mudah, ada anak yang bahkan hanya dengan maju saja, sudah mendapatkan doorprize. Dan doorprize masih tersisa sangat banyak, yang sedianya untuk yang bisa menjawab, akhirnya diberikan untuk yang membantu tugas kebersihan dan kerapian. Duh, jan. Saya selalu kalah mengantisipasi hal-hal yang seharusnya bisa diprediksi sejak awal.
Lalu, pembagian snack. Ada yang bisa dapat double, ada yang tidak kebagian, ada bahkan yang berkomentar, masa membawa kue begitu banyak, cuma dapat sedikit. Itu juga PR. Bagaimana menumbuhkan kepedulian, kejujuran, dan keikhlasan sekaligus. Itu sungguh berat, meski juga bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.
Bagaimanapun, kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw 1434 H yang digelar hari ini, tetap sebuah prestasi bagiku. Tetap layak disyukuri. Untuk terus dijadikan sebagai bahan pembelajaran hidup. Agar saya bertambah dewasa. Agar saya semakin tanggap. Dan hal-hal yang dianggap kecil dan mengganggu, bisa diantisipasi sejak awal. Tetap semangat! Tetap tersenyum!
Kesendirian bukanlah penghalang bagiku untuk berkarya. Teruslah berkarya. Semaksimal yang kamu bisa. Bila pun itu dinilai gagal oleh yang lain (dan hanya kau sendiri yang menganggapnya sukses), itu tetap sesuatu banget. Sebab, tak semua orang berkesempatan melakukan hal yang telah kau lakukan.
Akhirnya, alhamdulillah.... Thanks God, atas kekuatan yang Kau titipkan padaku untuk terlaksananya kegiatan ini (selalu haru dan ingin menangis rasanya).
Salam
Bagiku, ini sungguh sudah sangat luar biasa. Hanya jujur, memang ada beberapa catatan, dan itu semua ada pada diriku sendiri. Saya, sangat mengakui bahwa jiwa manajerial saya tidak bagus. Saya juga tidak bisa ambil sikap tegas atas hal-hal yang membutuhkan keputusan cepat. Bahkan, menjadi terkesan plin plan.
Saya sangat menyesalkan untuk hal pembagian doorprize. Adalah hal yang sangat menggiurkan, bagiku, ketika nama disebutkan, lalu maju, mendapatkan kesempatan menjawab, benar, lalu mendapatkan hadiah. Namun tidak bagi anak-anak. Sebab, tidak semua anak berjiwa pemberani. Di sini, peran saya untuk menumbuhkan keberanian anak-anak, terbukti nihil. Bila pun ada anak yang bersedia maju, itu bukan karena berhasil ditumbuhkan keberaniannya oleh guru, tapi memang sudah dari sononya anak itu memang pemberani. Hal yang perlu dibenahi.
Ditambah, tidak ada mekanisme yang jelas sejak awal. Alhasil, ada anak yang mendapatkan soal dengan kualitas sangat mudah, ada anak yang bahkan hanya dengan maju saja, sudah mendapatkan doorprize. Dan doorprize masih tersisa sangat banyak, yang sedianya untuk yang bisa menjawab, akhirnya diberikan untuk yang membantu tugas kebersihan dan kerapian. Duh, jan. Saya selalu kalah mengantisipasi hal-hal yang seharusnya bisa diprediksi sejak awal.
Lalu, pembagian snack. Ada yang bisa dapat double, ada yang tidak kebagian, ada bahkan yang berkomentar, masa membawa kue begitu banyak, cuma dapat sedikit. Itu juga PR. Bagaimana menumbuhkan kepedulian, kejujuran, dan keikhlasan sekaligus. Itu sungguh berat, meski juga bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.
Bagaimanapun, kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw 1434 H yang digelar hari ini, tetap sebuah prestasi bagiku. Tetap layak disyukuri. Untuk terus dijadikan sebagai bahan pembelajaran hidup. Agar saya bertambah dewasa. Agar saya semakin tanggap. Dan hal-hal yang dianggap kecil dan mengganggu, bisa diantisipasi sejak awal. Tetap semangat! Tetap tersenyum!
Kesendirian bukanlah penghalang bagiku untuk berkarya. Teruslah berkarya. Semaksimal yang kamu bisa. Bila pun itu dinilai gagal oleh yang lain (dan hanya kau sendiri yang menganggapnya sukses), itu tetap sesuatu banget. Sebab, tak semua orang berkesempatan melakukan hal yang telah kau lakukan.
Akhirnya, alhamdulillah.... Thanks God, atas kekuatan yang Kau titipkan padaku untuk terlaksananya kegiatan ini (selalu haru dan ingin menangis rasanya).
Salam
Kamis, 07 Februari 2013
MENULISLAH....
Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw berisi pesan bagi kita untuk membaca. Membaca apapun. Makna yang tersirat, bila ada perintah untuk membaca, pastilah ada yang dibaca. Bila ada yang dibaca, maka pasti ada yang membuat "sesuatu yang bisa dibaca tersebut"
Alloh swt menggelar alam raya ini sebagai bentuk "tulisan-Nya". Tulisan yang harus kita baca, kita telaah, kita fikirkan, kita renungkan. Meneladani ke-Maha Karya-an Sang Illahi, maka membuat sesuatu yang bisa dibaca pasti juga hal yang sangat bernilai penting. Bila boleh saya menamakan, sesuatu yang bisa dibaca itu, kita namakanlah sebagai "tulisan". Akankah ada tulisan tanpa ada yang menuliskannya?
Maka, menulislah. Apapun itu, kapanpun itu, bagaimanapun itu. Teman saya yang penulis menyatakan bahwa menulis tidak harus sekaligus bagus. Menulis adalah salah satu proses agar otak kita senantiasa awet muda. Otak kita dirangsang untuk bekerja. Dan terlebih, dengan menulis, maka keberadaan kita akan terus ada. Bila tak percaya, kau bisa mencobanya.
Ayo, terus menulis. Agar orang lain tahu apa yang kita pikirkan. Agar otak kita tidak "jundel". Agar daya analisis kita terasah. Agar bisa memberikan manfaat lebih banyak untuk orang lain. Agar, keberadaan kita tetap ada, meskipun kita telah tiada. Selamat berkarya!
"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia"
Alloh swt menggelar alam raya ini sebagai bentuk "tulisan-Nya". Tulisan yang harus kita baca, kita telaah, kita fikirkan, kita renungkan. Meneladani ke-Maha Karya-an Sang Illahi, maka membuat sesuatu yang bisa dibaca pasti juga hal yang sangat bernilai penting. Bila boleh saya menamakan, sesuatu yang bisa dibaca itu, kita namakanlah sebagai "tulisan". Akankah ada tulisan tanpa ada yang menuliskannya?
Maka, menulislah. Apapun itu, kapanpun itu, bagaimanapun itu. Teman saya yang penulis menyatakan bahwa menulis tidak harus sekaligus bagus. Menulis adalah salah satu proses agar otak kita senantiasa awet muda. Otak kita dirangsang untuk bekerja. Dan terlebih, dengan menulis, maka keberadaan kita akan terus ada. Bila tak percaya, kau bisa mencobanya.
Ayo, terus menulis. Agar orang lain tahu apa yang kita pikirkan. Agar otak kita tidak "jundel". Agar daya analisis kita terasah. Agar bisa memberikan manfaat lebih banyak untuk orang lain. Agar, keberadaan kita tetap ada, meskipun kita telah tiada. Selamat berkarya!
"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia"
BUKAN MENGELUH, HANYA SHARING...
Ada yang semakin berbeda pada organ tubuhku. Bila tubuhku kelelahan, organ tersebut memberikan sinyal yang membuatku berpikir bahwa hidupku tak akan lama lagi. Saya sadar, saya sakit. Saya tahu, saya punya penyakit. Adalah hal yang wajar bila kemudian saya berusaha mengatasi sakit dan penyakit itu sejak sekarang. Mungkin, salah, ketika saya tidak segera memeriksakan kondisi ini kepada yang lebih berkompeten mengatasinya. Mungkin salah, bila saya langsung mengambil jalan pengobatan alternatif dalam mengatasi sakit ini. Tapi namanya usaha, mudah-mudahan berhasil. Aamin.
Pengalaman operasi pengangkatan tumor payudara tahun 2008 lalu, membuatku memilih jalan pengobatan herbal saat rasa sakit itu kembali terasa. Senit-senit. Sesekali. Tapi bisa bertambah intensitas sakitnya bila kondisi tubuh sedang lelah. Barangkali, saya bisa abaikan rasa lelah itu. Tapi, rasa sakit tak bisa kompromi.
Tadi rapat guru SD-SMP Satap. Ada kalimat menarik yang saya garisbawahi dari uraian yang disampaikan oleh Bapak Kepala Sekolah yang baru (Bapak Sutar). Intinya, jadi orang itu "mbokyao" tahu diri. Tahu diri di sini berarti, janganlah menuntut mutu yang baik ketika belum melakukan kerja keras yang maksimal, yang memadai untuk tercapainya mutu yang baik tersebut.
Bila dihubungkan dengan penyakit yang sedang saya derita ini, maka saya juga harus tahu diri. Menyadari bahwa tubuh saya bukanlah mesin. Dan memberinya waktu untuk beristirahat. Bukankah, katanya, saat beristirahat itu, sel-sel tubuh yang rusak akan diperbaiki? Nah...
Teruslah berusaha. Saya yakin, Alloh akan memberikanku pertolongan. Mengijinkanku merasakan umur panjang. Memberikanku kekuatan untuk dapat lebih bermanfaat bagi umat dan sesama. Aamiin
Pengalaman operasi pengangkatan tumor payudara tahun 2008 lalu, membuatku memilih jalan pengobatan herbal saat rasa sakit itu kembali terasa. Senit-senit. Sesekali. Tapi bisa bertambah intensitas sakitnya bila kondisi tubuh sedang lelah. Barangkali, saya bisa abaikan rasa lelah itu. Tapi, rasa sakit tak bisa kompromi.
Tadi rapat guru SD-SMP Satap. Ada kalimat menarik yang saya garisbawahi dari uraian yang disampaikan oleh Bapak Kepala Sekolah yang baru (Bapak Sutar). Intinya, jadi orang itu "mbokyao" tahu diri. Tahu diri di sini berarti, janganlah menuntut mutu yang baik ketika belum melakukan kerja keras yang maksimal, yang memadai untuk tercapainya mutu yang baik tersebut.
Bila dihubungkan dengan penyakit yang sedang saya derita ini, maka saya juga harus tahu diri. Menyadari bahwa tubuh saya bukanlah mesin. Dan memberinya waktu untuk beristirahat. Bukankah, katanya, saat beristirahat itu, sel-sel tubuh yang rusak akan diperbaiki? Nah...
Teruslah berusaha. Saya yakin, Alloh akan memberikanku pertolongan. Mengijinkanku merasakan umur panjang. Memberikanku kekuatan untuk dapat lebih bermanfaat bagi umat dan sesama. Aamiin
Label:
curhat,
introspeksi
Senin, 04 Februari 2013
Itikad di awal tahun
Beberapa waktu yang lalu, ketika ada yang menulis status (kira-kira, soale redaksi tepatnya saya lupa, akan menjadi apakah kamu 10 tahun yang akan datang?) saya memberikan tanggapan bahwa saya berharap, sepuluh tahun sejak saat ini, saya ingin:
1. Punya rumah sendiri
2. Berkumpul bersama suami dan anak dalam arti yang sesungguhnya
3. Produktif menulis
4. Tak lagi punya hutang
Aamiin
Betapa besar manfaat dari sering menggoreskan ide. Yang jelas, tulisan adalah dokumen yang sangat tahan uji. Tahan waktu, dan bisa dijadikan bahan evaluasi atas apa yang telah dilakukan. Mungkin itu sebabnya, Allah dengan sengaja menciptakan malaikat yang bertugas mencatat segala amal perbuatan manusia. Itu semua, tak lain, agar ada bukti konkrit atas apa yang telah dilakukan, dan tak ada alasan sedikitpun untuk mengelak dari semuanya.
Saya juga ingin begitu. Produktif menulis. Telah sangat lama, ide-ide tak tersalurkan semestinya. Hidup rasanya hampa. Indah sekali pasti, bila benar-benar bisa mewujudkan seluruh mimpi ini. Satu hari satu karya tulis. Satu detik, satu kebaikan. Bismillah
Jelang Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw 1434 H. Semoga suksek, semoga lancar. Aamiin...
Jumat, 15 Juni 2012
LIBURAN BERSAMA KEGIATAN
Bulan ini adalah akhir tahun pelajaran 2011/2012. Idealnya, akhir tahun akan diisi dengan hal-hal yang kiranya bisa membuat hati dan pikiran lega dan fresh, setelah satu tahun berkutat dengan pekerjaan demi pekerjaan. Kesibukan mendera tiada henti. Melelahkan jiwa dan raga. Dan alangkah senangnya, ketika tiba waktu libur panjang, jiwa raga bisa benar-benar beristirahat sejenak.
Dan, fakta berbicara lain. Akhir tahun pelajaran ini, tidak ada kesempatan beristirahat sama sekali. Tapi ini tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk bersedih. Ada sisi lain dalam kesibukan yang telah menunggu, sebuah penyegaran jiwa. Berkemah, bersiap untuk KKN, terus KKN, Ramadan-an, lebaran... Benar-benar hari-hari yang akan menguras banyak waktu, tenaga, dan biaya. Mudah-mudahan diberi kesehatan dan kekuatan untuk menjalani semua itu. Amin
Langganan:
Postingan (Atom)
